Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | PIDIE JAYA – Lumpur di Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, sisa-sisa amukan banjir Sumatera belum sepenuhnya enyah. Sebagian telah mengeras setinggi lutut, memerangkap pintu-pintu rumah warga. Sebagian masih terhampar di antara pemukiman. Saat hujan kembali turun, tanah liat itu berubah menjadi bubur licin yang menyesakkan napas dan mengotori apa saja yang tersisa.

Menembus Keterbatasan
Bagi Nurliawati, salah satu warga Blang Cut, kehadiran layanan kesehatan DT Peduli di desanya adalah jawaban atas doa-doanya. Sejak banjir melanda, akses kesehatan menjadi barang mewah.
"Kami mau berobat, mau konsultasi sama dokter. Tapi kalau mau beli obat, kami harus ke klinik yang jauh. Kendaraan pun kami tidak ada," tutur Nurliawati dengan suara lirih, kemudian matanya berbinar.

Di sudut lain, Bidan Fatnia, bidan desa setempat, sibuk memeriksa tekanan darah seorang lansia. Di tengah kesibukannya, ia menceritakan betapa kompleksnya keluhan kesehatan warga pascabencana, apalagi saat ini memasuki bulan suci Ramadhan.
"Sebelum puasa kemarin, rata-rata warga terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), hipertensi, dan kolesterol. Tapi sekarang, selama puasa, keluhan mulai beralih ke gangguan lambung, masuk angin, dan perut kembung," jelas Bidan Fatnia.

Bagi Fatnia, melayani warga yang sedang tertimpa musibah bukan sekadar tugas profesi.
"Alhamdulillah senang sekali. Mungkin ini yang bisa saya berikan untuk masyarakat di sini," ungkapnya tulus.
Kepedulian Donatur
Bantuan DT Peduli di Blang Cut ternyata tak hanya berhenti di layanan kesehatan. Kehadiran obat-obatan yang memadai hingga pembangunan sumur bor untuk akses air bersih menjadi bukti nyata kedermawanan para donatur.
"Alhamdulillah sekali, donatur dari DT Peduli sudah memberi bantuan kepada kami, mulai dari obat-obatan sampai sumur bor. Terima kasih banyak," tambah Bidan Fatnia.

Baca juga: Kisah “Tsunami Kayu” di Garoga
Penyunting: Agus ID