Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG BARAT – Ambulans itu datang tanpa suara. Tidak ada sirine. Tidak ada aba-aba. Hanya deru mesin yang pelan, nyaris kalah oleh isak tangis yang sudah lebih dulu memenuhi halaman pesantren tahfiz di belakang Puskesmas Pasirlangu.
Sejak Senin pagi (26/1/2026), bahkan sejak Sabtu (24/1/2026) saat longsor Cisarua terjadi, puluhan keluarga menunggu di sana. Mereka menunggu kepastian. Menunggu kabar. Menunggu siapa lagi yang harus mereka ikhlaskan.
Pesantren tahfiz itu berubah fungsi menjadi posko DVI, tempat jenazah-jenazah korban longsor diidentifikasi sebelum dimakamkan. Di ruang kelas yang sederhana, jasad-jasad dibaringkan. Teras kelas disulap menjadi tempat pemandian jenazah. Di masjid, keluarga duduk saling berpelukan, menahan hancur yang tak mungkin benar-benar tertahan.
Begitu ambulans berhenti, tangis meledak. Jenazah diturunkan perlahan. Saat satu nama diumumkan petugas, suasana kembali runtuh. Selembar kertas HVS putih bertuliskan nama jenazah diserahkan. Tangan-tangan bergetar menyambutnya, lalu menempelkannya ke dada, seolah takut nama itu ikut hilang jika dilepas. Tangis tak bisa ditahan. Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah akan langsung dikuburkan hari itu juga.
Di antara mereka yang menunggu, Teti duduk dengan mata sembab. Sejak hari pertama longsor, ia ada di sana. Ia menyaksikan sendiri, dengan matanya sendiri, bagaimana tanah bergerak dan menelan rumah orang tua serta sanak keluarganya. Semua terjadi begitu cepat. Terlalu cepat untuk diselamatkan.
Teti selamat karena rumahnya berada di RT berbeda. Tapi keselamatan itu datang dengan kehilangan yang berharga yang mahal. Sebanyak 13 orang keluarganya dinyatakan hilang, termasuk sang ayah. Setiap nama yang diumumkan petugas DVI seperti palu yang menghantam dadanya. Keras dan membuat sesak.
Senin sore itu, giliran nama Andar disebut. Nama ayahnya.
Tangis Teti pecah. Ai, ibu sambungnya, memeluknya erat. Dua tubuh yang tersisa dari satu keluarga besar itu saling menguatkan, meski sama-sama larut dalam kesedihan. Ibunya juga selamat karena sedang berada di luar kota.
“Paman, keponakan, sepupu, adik, menantu, cucu abah. Baru ketemu empat orang; baru ketemu adik saya, paman saya, sepupu saya, terus ini ayah saya. Mudah-mudahan sekarang ketemu semuanya,” ucap Teti dengan suara bergetar. Tangannya menggenggam kertas putih bertuliskan nama ayahnya.
Ia menggambarkan letak rumahnya di kerta HVS, mencoba menjelaskan letak rumah mereka sebelum tertimbun tanah.
“Saya di bawah, ini dia (bapak) di atas. Itu di RW 5. Posisi rumah saya yang pertama,” katanya, sesekali terhenti oleh tangis.
Longsor itu terjadi dini hari, sekitar pukul dua menuju pukul tiga pagi. Saat sebagian besar orang masih terlelap.
“Saya memang enggak bisa tidur. Pas ada suara itu saya langsung keluar. Saya lihat tanah yang longsor. Itu benar-benar sekejap mata. Dalam sekejap mata semua hilang, tertimpa,” tutur Teti. Suaranya pecah. Mata sembabnya berusaha menerawang momen yang mencekam itu.
Ia menjerit saat itu. Jeritan yang membangunkan keluarga lain di rumahnya. Tapi jeritan tidak pernah cukup kuat untuk menghentikan longsor.
“Yang lain bangun juga karena jeritan saya. Itu benar-benar dalam sekejap mata, hilang semua,” tambahnya.
Basarnas mencatat, sekitar 80 orang diduga meninggal dunia akibat longsor Cisarua. Hingga Senin sore, 30 jenazah telah ditemukan. Angka-angka itu punya nama, wajah, dan keluarga yang menunggu. 
“Suasana di sini dari sejak hari pertama begitu menyedihkan. Para keluarga menunggu di masjid, di depan. Mereka kelihatan sangat sedih dengan kepergian anggota keluarga mereka,” ujar Aji, Relawan DT Peduli yang sudah berada di posko sejak awal.
Tak ada kalimat yang benar-benar cukup untuk menggambarkan kehilangan seperti ini. Di Cisarua, duka datang bukan bertahap, tapi serentak. Dalam satu malam, satu keluarga bisa lenyap.
Baca juga: Aksi Tanggap Darurat Longsor Cisarua, 80 Orang Dinyatakan Hilang
Penulis: AID
Penyunting: AID