Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Kisah Iyah dan Dede Bersama Keluarga Bangkit Pascagempa Kertasari
 

 

Kisah Iyah dan Dede Bersama Keluarga Bangkit Pascagempa Kertasari

Dipublish pada:

29 Oct 2025


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Rabu siang (22/10/2025), suasana di Kertasari, Bandung, tampak damai. Iyah (60) dan suaminya, Dede Saepudin (57), duduk di ruang tengah rumah mereka yang baru, sebuah bangunan kokoh yang menjadi simbol bangkitan mereka setelah rumah mereka dihancurkan gempa. Wajah mereka memancarkan rasa syukur, kontras dengan kisah traumatis yang mereka bagikan. 

Kisah itu bermula setahun sebelumnya, pada Rabu (18/9/2024). Pukul 11:27:03 WIB, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Kabupaten Bandung.  

Gempa yang berpusat di darat (12 km Tenggara Kabupaten Bandung) ini dirasakan kuat hingga skala IV–V MMI di Kertasari, tepat di Situ Cianjur Kampung Cibeureum, menyebabkan kerusakan parah, termasuk rumah mereka yang berada di kampung tersebut. 

Iyah mengenang pagi yang nahas itu. Tiba-tiba, tanah bergetar hebat. Waktu itu, Ia sedang mencuci bibit wortel di depan rumah. Sementara, anak-anaknya dan cucunya sedang sedang tidur di dalam rumah. 

 "Tiba-tiba itu gempa langsung. Tidak aba-aba dulu, langsung tarik (kencang). Gempa itu. Ibu teriak-teriak di sana. Ibu teriak-teriak sambil pegang pagar: 'Dadang! Neng! Keluar!'" kenangnya sambil berkaca-kaca. 

Dalam hitungan detik, guncangan hebat itu mengubah rumah mereka menjadi timbunan puing. Bagian rumah yang ambruk menjebak anak dan cucunya. Di tengah kepanikan, rumahnya diselimuti debu dan suara gemuruh. Iyah terus berteriak. 

"Pas sudah beberapa detik, ini rumah roboh, yang pertama ini sebelah sini. Roboh rumahnya," lanjutnya.  

Setelah getaran mereda, anggota keluarga yang tertimpa reruntuhan, termasuk anak perempuan bersama bayinya dan anak bungsunya, berhasil merangkak keluar sambil menangis. Badan anak perempuannya memar karena reruntuhan, sementara cucunya menangis histeris diselimuti debu. Tubuh anak perempuannya memar melindungi bayina. 

“Ibu bersyukur, Alhamdulillah. Itu anak-anak pada selamat. Alhamdulillah. Kadang rumah enggak apa-apa, yang penting jadi bangun lagi," tuturnya. 

Saat bencana terjadi, Dede Saepudin sedang berada di kebun. Ia merasakan gempa besar dan berusaha segera bergegas pulang sambil merangkak karena saking besarnya getaran yang terasa.  

Membangun Kembali dari Tenda Pengungsian 

Setelah rumah mereka hancur,  Iyah, Dede, dan keluarga terpaksa mengungsi. Selama kurang lebih lima bulan, mereka harus tinggal di tenda pengungsian, merasakan dingin dan ketidakpastian.  

"Selama rumah dibangun, nginap di tenda," cerita Iyah. 

Harapan muncul melalui bantuan dari berbagai pihak, termasuk DPT Peduli. Keluarga Iyah dan Dede menerima bantuan dana untuk membangun kembali rumah mereka. Proses pembangunan dilakukan secara swakelola. 

Yang menarik, mereka berupaya memanfaatkan material sisa reruntuhan. Sekitar 30 persen kayu dari bangunan lama dipakai kembali, menunjukkan upaya pemulihan yang mandiri dan efisien. Rumah yang berhasil dibangun itu pun dinamakan Recycle House

"Ibu bangun rumah swakelola. Semua rumah mah... itu ku ajak sama ibunya, semua keluarga ikut serta. Alhamdulillah waktu membangun ini banyak bekal dari bantuan. Makanan enggak kurang untuk pekerja lagi ngebangun ini satu bulan full," kenang Iyah. 

Menerima bantuan dana terasa seperti keajaiban bagi Iyah dan keluarga. "Ya, pas ada bantuan dari DT, Ibu sangat bahagia. Apalagi pas udah pencairan. Udah pencairan, itu uang udah di tangan. Ibu terasa mimpi," ungkap Ibu Iyah dengan mata berkaca-kaca. 

Dede pun merasakan kebahagiaan yang sama. "Ya, sama weh Bapak. Sama si Mama gitu. Bahagia sekali ya sekarang," timpal Dede. 

Tinggal di rumah baru ini memberikan kenyamanan dan rasa aman yang hilang pascagempa. "Alhamdulillah nyaman," kata Ibu Iyah. "Beribadah nyaman di rumah, apalagi berkumpul bersama di rumah sama keluarga. Alhamdulillah. Bersyukur sudah kembali normal, punya rumah sendiri lagi." 

Mereka tidak lagi dihantui rasa takut saat angin kencang atau hujan. "Anak yang kecil itu kasihan. Umat takut kalau lagi di tenda ada angin sama hujan. Sekarang alhamdulillah sudah nyaman," imbuhnya. 

Kini, kehidupan telah kembali normal. Iyah kembali berkebun, menghadiri pengajian, dan berfokus pada peningkatan ibadah. "Diberikan nikmatan yang lebih, terutama nikmat sehat yang paling Ibu syukuri. Alhamdulillah. Segalanya." 

Iyah dan Dede menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh donatur dan DPT Peduli. 

"Mengucapkan terima kasih banyak sebesar-besarnya," kata Pak Dede. 

"Mudah-mudahan menjadi amal kebaikan bagi mereka yang telah menghibahkan sebagian hartanya kepada kami di sini. Mudah-mudahan segala amal kebaikannya diterima oleh Allah SWT," tutup Iyah, mendoakan kebaikan bagi semua pihak yang telah membantu mereka bangkit dari puing-puing rumah mereka akibat gempa Kertasari. 

Baca juga: Bantuan Kipas Angin untuk Korban Gempa di Cibeureum, Kertasari 

Penulis: AID/GM 

Editor: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator