Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Matahari baru saja meninggi di ufuk timur saat Ita Muswita berdiri tegak di tengah rekan-rekan relawan lainnya. Tidak ada gurat ragu di wajahnya, meski ia tahu bahwa perjalanan yang akan ditempuhnya bukanlah perjalanan biasa. Ia akan berangkat ke Turki, lalu menaiki kapal dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 untuk menembus blokade laut Gaza yang dikenal mematikan.

“Kitalah yang Butuh Gaza”
“Pengalaman masuk ke Gaza sebenarnya merupakan motivasi untuk masuk ke Gaza lagi. Banyak hal yang kita pelajari dari sana,” ujar Ita saat ditemui usai prosesi pelepasan.
Kalimat selanjutnya yang meluncur dari bibirnya justru membalikkan logika kemanusiaan pada umumnya. “Kalau dibilang Gaza itu butuh kita, sebenarnya tidak. Terbalik, kitalah yang butuh Gaza.”
Bagi wanita yang telah mendedikasikan dirinya sebagai relawan medis sejak tsunami Aceh 2006 ini, Gaza adalah madrasah tentang kehidupan. Ia melihat bagaimana para ibu, anak-anak, dan pejuang di sana tetap teguh menjaga tanah air mereka sebagai benteng terakhir Masjidil Aqsha, meski digempur bertubi-tubi oleh zionis. Ketangguhan itulah yang menjadi bahan bakar semangat bagi Ita untuk terus kembali.
Keberanian Ita sudah dibuktikan. Sebelumnya, ia pernah bertugas selama 74 hari di Gaza, bahkan menghabiskan masa Ramadhan di bawah bayang-bayang suara ledakan dan dengung drone yang tak pernah berhenti selama 24 jam.

“Sudah banyak kondisi terburuk yang dilalui. Pernah ditahan, hingga rambut kepala saya digunduli oleh mereka,” kenangnya tanpa nada dendam, melainkan ketegasan seorang pejuang. Pengalaman traumatik itu justru mempertebal keyakinannya bahwa misi kemanusiaan ini adalah jalan hidup yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.
Misi Global Sumud Flotilla 2.0
Dalam misi kali ini, Ita akan bergabung dengan 16 delegasi dari Indonesia yang terdiri dari tim medis, jurnalis, dan influencer. Mereka akan bersatu dengan relawan internasional di Turki sebelum akhirnya mengarungi Laut Mediterania menuju Gaza.
Misi ini membawa tantangan besar karena jalur laut adalah wilayah sensitif yang dijaga ketat oleh blokade militer. Namun, bagi Ita, urusan teknis adalah satu hal, sedangkan kelapangan hati adalah kunci utama.
“Sebagai relawan yang menangani tempat konflik, hal terpenting adalah kelapangan hati keluarga. Jika keluarga khawatir dan terus menelepon, relawan bisa tidak fokus dan ragu saat di lapangan,” tuturnya. Beruntung, keluarga Ita telah memberikan ridha sepenuhnya. Baginya, jika maut menjemput di tengah samudra, ia berharap Allah mencatatnya sebagai mati syahid.

Ita Muswita kini bersiap. Di usianya yang telah memasuki kepala lima, ia membuktikan bahwa misi kemanusiaan tidak mengenal batas umur maupun ketakutan. Baginya, setiap langkah menuju Gaza adalah upaya menyadarkan dunia bahwa meski dikucilkan, Gaza tetap bertahan.
“Gaza tetap survive sampai saat ini. Ada banyak rahasia yang perlu kita pelajari dari keteguhan mereka,” tegasnya.
Pada penghujung April nanti, saat kapal mulai membelah ombak dari pelabuhan di Turki, doa dari tanah air akan mengiringi langkahnya. Ita Muswita bukan sekadar membawa obat-obatan atau peralatan medis, ia membawa harapan bagi para ibu di Gaza bahwa mereka tidak sendirian dalam menjaga kiblat pertama umat Islam.
“Mudah-mudahan perjalanan laut kali ini bisa berjalan dengan baik seperti harapan kita, walaupun optimisnya nggak boleh optimis-optimis banget gitu ya, tapi semangat itu tetap harus ada bahwa kita bisa membersamai saudara-saudara kita di Gaza. Semoga Allah ridha, itu yang kita minta. Semoga kita juga dijauhkan dari sifat ujub, diikhlaskan dalam perjalanan ini,” pungkasnya penuh optimis saat pelepasan relawan DT Peduli.
Baca juga: GSF 2.0 Jadi Momentum Bangkitnya Kepedulian Global untuk Palestina
Penyunting: Agus ID