Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Kisah Ani Nuraini, Sang Koordinator Donatur Door-to-Door
 

 

Kisah Ani Nuraini, Sang Koordinator Donatur Door-to-Door

Dipublish pada:

28 Oct 2025


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Di balik gemerlap kemudahan berdonasi digital, ada Ani Nurain sosok gigih mengetuk pintu, membawa kotak amal kecil, dan menyalakan api sedekah dari pintu ke pintu. Ia adalah seorang ibu rumah tangga berusia 50-an tahun yang tinggal di Kampung Budiasih RT 03 RW 07 Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. 

Selama tiga tahun terakhir, Ani telah mengemban peran sebagai koordinator DT Peduli. Tugasnya sederhana namun mulia, yakni mengoordinasi dan menyebarluaskan semangat sedekah melalui kencleng Umat Unggul (kotak amal mini) di lingkungannya. Pada Rabu (22/10/2025), penulis berkesempatan bertemu dengan Ani di kediamannya.

Meluaskan Kepedulian dalam Keterbatasan

Kisah perjalanannya jauh dari kata mudah. Di usia 50-an, ia masih harus menghadapi kenyataan bahwa tulang punggung keluarga sedang menghadapi masa sulit. Sang suami mendukung, namun salah satu anaknya, Asep, sedang menganggur, dan anak yang lain baru bekerja dengan penghasilan yang belum maksimal.

"Setiap hari, Bapak support di rumah. Cuma Asep lagi menganggur, kakak kerjanya belum maksimal," tuturnya dengan nada pelan. 

Di tengah keterbatasan ekonomi ini, Ani justru memilih untuk meluaskan kepeduliannya pada orang lain. Kesulitan pribadinya tidak lantas memadamkan semangat untuk memberi.

ani, koordinator door-to-door 3.JPG 52.63 KB
Titik baliknya terjadi tiga tahun lalu, saat seorang kenalan, Sa’adah, menawarinya menjadi koordinator DT Peduli. Awalnya ia ragu, merasa tak mampu dan tak bisa.

"Dalam hati saya, saya enggak tahu ya, ada rasa tergugah, pengin. Kalau di mulut bilang enggak, tapi di hati bilang, 'Ya, insyaallah, saya siap'," kenangnya.

Yang paling menggugah hatinya adalah jangkauan sedekah yang luas. Ia menyadari, meski nominalnya kecil, hanya Rp1.000 atau Rp2.000, uang yang terkumpul di kencleng Daarut Tauhiid bisa mencakup wilayah yang jauh, bahkan sampai ke Palestina, untuk beasiswa, dan bantuan anak yatim.

"Itu keistimewaannya. Uangnya cuman Rp1.000, Rp2.000, dikumpulin, tapi bisa mencakup sampai luar daerah, sampai provinsi. Itu yang membuat saya tergugah," ujarnya.

Sisa Belanja

Ani Nuraini memiliki cara unik dalam mencari donatur. Ia secara khusus menyasar ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya. Baginya, kelompok inilah yang paling memahami makna dari menyisihkan.

"Terasa ke saya. Kan saya ibu rumah tangga. Uang belanja harus bisa diatur," jelasnya.

Bukan karena mereka berpenghasilan besar, justru sebaliknya. Ani ingin mereka merasakan nikmatnya bersedekah tanpa beban.

"Kalau sudah belanja, sudah semuanya, sudah beli beras, ada sisa, sisa itu ada Rp2.000 atau Rp5.000. Itu sudah kemasuk risiko (jatah uang dapur).tapi bisa menyisihkan buat sedekah. Saya bilang ke ibu-ibu, 'Bu, habis kita belanja, masukin.' Itu dari sisa belanja, sisa uang jajan," kata Ibu Ani, menjelaskan kunci keberhasilan program kencleng yang ia kelola hingga mencapai 85 donatur.

Dengan cara ini, sedekah tidak lagi menjadi beban, melainkan kebiasaan yang dibungkus dalam manajemen keuangan rumah tangga yang sederhana.

Perjuangan Door-to-Door 

Peran sebagai koordinator bukanlah tugas meja. Setiap bulannya, Ani harus door-to-door mendatangi 85 donatur untuk mengambil kencleng yang sudah terisi dan menggantinya dengan yang kosong. Ini adalah perjuangan fisik dan mental.

"Saya sampai tiga atau empat hari mengumpulkannya. Kalau enggak ada, saya datang lagi," katanya.

ani, koordinator door-to-door 2.JPG 79.89 KB
Terkadang ia harus menghadapi cuaca panas, kelelahan, bahkan penolakan. Dengan tangan yang penuh; kencleng terisi di tangan kanan, kencleng  kosong di tangan kiri, dan majalah Swadaya di antara tangan kiri dan kanan, ia tembus panasnya hari dan tidak mempedulikan lelah yang diraskan. Namun, semangatnya selalu kembali. Ia mengingat ceramah ustaz bahwa sedekah itu adalah bekal kita di akhirat. 

"Sedekah itu kan buat kita, bukan buat orang lain. Buat bekal kita nanti mati," ujarnya mantap.

Keberkahan yang Terasa Nyata

Meski tantangan tak berkesudahan, Ani merasakan keberkahan yang nyata dalam hidupnya. Yang paling ia rasakan adalah persaudaraan dan kasih sayang yang ia dapatkan dari DT Peduli dan para donatur.

"Saya dirangkul sama DT. Saya merasa persaudaraan dan kasih sayangnya DT itu beda dari yang lain," katanya, matanya berbinar.

Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika ia merasa bermanfaat. Ia bahkan pernah merasakan "kebahagiaan ajaib" ketika sedang kebingungan saat sakit, tiba-tiba bantuan datang tanpa disangka-sangka.

"Ada kepuasan, saya memperjuangkan, karena saya tidak bisa jalan (sedekah) sendiri, jadi saya melalui orang lain. Saya bahagia," ungkapnya diiringi senyum yang lebar.

ani, koordinator door-to-door 4.JPG 45.6 KB
Di usia 50-an, dengan kondisi kesehatan yang kadang menurun karena penyakit lambungnya dan peran sebagai ibu rumah tangga yang tak boleh terbengkalai, Ani tetap memiliki satu cita-cita, yakni menggenapkan donatur hingga 100 orang.

"In syaa Allah semampu saya. Semoga saja saya sehat. In syaa Allah, kalau enggak ada kendala, maju terus," tutupnya dengan penuh optimisme.

Ani Nuraini adalah cerminan dari semangat memberi yang tak lekang oleh kesulitan ekonomi. Ia membuktikan bahwa sedekah bukanlah milik mereka yang berlimpah harta, melainkan milik mereka yang berlimpah keikhlasan, bahkan jika itu harus dijemput dari sisa-sisa uang belanja.

Baca juga: Kisah Inspiratif Rohmat dari Desa Sejahtera

Penulis: AID/GM

Editor: Agus ID

Ditulis Oleh:

Administrator