Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | SEMARANG – Bagi Woro, melihat rumahnya yang perlahan rusak hingga akhirnya tidak bisa ditempati adalah sebuah kesedihan yang sulit diungkapkan. Bukan hanya karena ia kehilangan tempat berteduh, tapi karena rumah itu menyimpan impian besar almarhum ayahnya.
Semasa hidup, sang ayah sangat ingin memperbaiki rumah tersebut agar Woro bisa hidup nyaman. Namun, takdir berkata lain. Sang ayah berpulang sebelum impian itu terwujud, meninggalkan Woro dengan beban melihat rumah peninggalan orang tuanya kian hari kian rapuh. 
Woro bercerita bahwa setiap kali melihat para tukang bekerja, ia selalu teringat sosok ayahnya. Meskipun sang ayah tidak lagi ada untuk mendampingi, ia merasa lega karena janji dan keinginan lama ayahnya kini akhirnya mulai menjadi kenyataan.Sebagai bentuk terima kasih, ia kerap menyiapkan minuman hangat dan berbincang dengan para pekerja.
Baginya, setiap bata yang tersusun adalah jawaban atas doa-doanya selama ini. Ia merasa sangat terbantu karena di saat ia sudah pasrah dengan keadaan atap rumah yang roboh, bantuan tulus datang mengulurkan tangan.
“Kalau lihat tukang lagi kerja itu mba, saya langsung keinget sama almarhum Bapak saya. Dulu Bapak kepengen banget untuk atap rumahnya diganti, tembok-temboknya dibangun ulang, rumah dicat lagi, tapi qadarullah, Allah lebih sayang Bapak,” ucap Ibu Woro dengan nada bicara yang bergetar.
Memasuki bulan Desember, rumah tersebut sudah tampak berdiri tegak dan sangat layak. Tidak ada lagi atap yang ambruk atau gemercik air yang bocor saat hujan deras. Semua dikerjakan dengan teliti agar Woro bisa tinggal dengan rasa aman dan tenang. Perasaan takut yang dulu menghantuinya setiap kali angin kencang berembus, kini hilang berganti dengan rasa nyaman yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Bahkan, meski belum selesai sepenuhnya, rumah ini sudah membawa keberkahan bagi keluarga.
“Alhamdulillah ini rumahnya sudah layak untuk kami tempati, kemarin juga sudah kami gunakan untuk pengajian Bapak. Terima kasih banyak untuk para donatur dan keluarga besar DT Peduli,” ungkapnya penuh syukur.
Ada haru yang tersisa saat proses penyelesaian rumah ini dilakukan. Woro sesekali termenung, membayangkan betapa bahagianya sang ayah jika saat ini masih ada dan melihat rumah mereka sudah secantik ini.
Walaupun sang ayah tidak sempat merasakan langsung rumah baru tersebut, Woro merasa telah menunaikan bakti terakhirnya dengan menjaga tempat tinggal peninggalan orang tuanya. Melalui perantara DT Peduli Jawa Tengah, amanah yang sempat tertunda itu kini telah berdiri kokoh menjadi tempat bernaung yang penuh keamanan.
Baca juga: Bantu Kakek Sahdan, DT Peduli Mataram-NTB Gerak Cepat Salurkan Bantuan Kemanusiaan
Penyunting: Agus ID