Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Suaranya tenang, tetapi tegas. Di usianya yang ke-55 tahun, Dr. Abdullah Abdul Majid Aziz Hamoud Az Zindaniy berbicara penuh semangat pembebasan Al-Quds dalam setiap kata yang diucapkannya. Itulah kesan saat berbincang dengannya, Jumat (20/2/2026).
Sebagai Wakil Ketua Ulama untuk Palestina, hidupnya adalah sebuah perjalanan panjang yang melintasi batas-batas geografi, disiplin ilmu, hingga pengabdian tanpa tepi.
Kisah Syaikh Abdullah dimulai di Sana’a, ibu kota Yaman. Namun, masa kecilnya tidak dihabiskan dalam kemanjaan kota. Saat usianya baru menginjak tujuh tahun, di mana anak-anak biasanya masih lekat dengan dekapan ibu, sang ayah mengirimnya ke sebuah institut berasrama di pedesaan.
"Saya tinggal di sana bersama para siswa lainnya. Saya menetap hingga usia sepuluh tahun," kenangnya.
Pengasingan dini itu bukan tanpa alasan. Sang ayah sedang membentuk mentalitas baja dan kemandirian dalam diri Abdullah muda. Pendidikannya berlanjut ke Arab Saudi, menghafal Al-Qur’an di sekolah Abi Zaid al-Anshari, hingga akhirnya kembali ke Yaman untuk mendalami ilmu syariah dan ilmu terapan di Institut Ilmiah Sana’a.
Abdullah dewasa menjadi perpaduan unik. Ia seorang Doktor Ekonomi Pembangunan yang fasih bicara perbankan Islam, namun ia juga seorang "orang lapangan" yang tak betah duduk di balik meja. Karakter ini ia tunjukkan saat mendirikan pabrik furnitur, mengelola peternakan unggas, hingga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi di Universitas Al-Iman.
"Bahkan ketika saya mengelola perusahaan atau universitas, saya tidak duduk di kantor. Saya langsung turun ke lapangan," ujarnya dengan mata berbinar.
Jalan dakwah dan profesionalismenya tak selalu mulus. September 2014 menjadi catatan kelam saat kelompok Houthi menduduki Sana’a. Rumah dideportasi, universitas diduduki. Abdullah dan keluarganya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran. Namun, bagi seorang pejuang, bumi Allah itu luas. 
Titik balik terbesar dalam hidupnya terjadi saat peristiwa Taufan Al-Aqsa meletus. Di saat banyak orang menghitung laba rugi bisnis di tengah krisis, Abdullah mengambil langkah ekstrem. Ia memfokuskan penuh dirinya untuk perjuangan Palestina.
Pilihan ini didukung penuh oleh ayahnya yang saat itu tengah terbaring sakit di rumah sakit. Sang ayah justru memerintahkannya untuk pergi berjihad melalui diplomasi dan penggalangan kekuatan ulama, ketimbang menunggunya di bangsal rumah sakit.
"Kukatakan pada rekan-rekan: 'Kalian saja yang mengelola bisnis ini, aku sekarang akan mencurahkan seluruh waktuku untuk urusan Palestina'," tegasnya.
Bagi Abdullah, Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan urusan keimanan. Ia merumuskan konsep lima tanah air bagi seorang Muslim: Makkah, Madinah, Masjidil Aqsa, negeri kelahiran, dan seluruh negeri Islam.
"Barangsiapa yang lebih mementingkan negerinya sendiri daripada Masjidil Aqsa atau Makkah, maka imannya lemah," ucapnya lugas.
Ia menekankan pentingnya "Jihad Media" dan "Jihad Harta". Menurutnya, satu dollar atau satu rupiah yang disumbangkan, atau satu video kejahatan Zionis yang diterjemahkan dan disebarkan, adalah peluru yang nyata.
Ia juga menegaskan untuk tetap melakukan Boikot produk yang mendukung kezaliman yang terjadi di Palestina. Namun, di atas segalanya, ia mengingatkan tentang senjata yang paling mematikan.
"Ada 'anak panah' yang sangat kuat, yaitu dua rakaat di tengah malam, merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa untuk mereka. Ini adalah anak panah malam yang tidak akan pernah meleset," tuturnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Di akhir perbincangan, Syaikh Abdullah menitipkan pesan bagi persatuan umat. Ia mengimbau agar umat tidak berkonflik, tapi harus saling merangkul dan memberi nasihat.
Melalui program Indonesian Movement for Palestine Aid, Collaboration & Trust (IMPACT) yang digelar oleh DT Peduli, Syaikh Abdullah membawa misi perjuangan untuk Al-Aqsa ke Indonesia. Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki peran dalam pembebasan Al-Quds, tak peduli seberapa jauh jaraknya. 
Program ini dijadwalkan berlangsung selama 20 hari di bulan suci Ramadhan, mulai 22 Februari hingga 13 Maret 2026. Rangkaian safari dakwah ini akan menjangkau 19 kota dengan total 140 titik lokasi di seluruh Indonesia.
Baca juga: Ramadhan untuk Palestina, DT Peduli Resmi Luncurkan IMPACT
Penyunting: Agus ID