Layanan

Donasi

Beranda

Donasi

Layanan

Jejak Perjuangan Dr. Abdullah Az-Zindaniy dan Seruan untuk Palestina
 

 

Jejak Perjuangan Dr. Abdullah Az-Zindaniy dan Seruan untuk Palestina

Dipublish pada:

23 Feb 2026


DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Suaranya tenang, tetapi tegas. Di usianya yang ke-55 tahun, Dr. Abdullah Abdul Majid Aziz Hamoud Az Zindaniy berbicara penuh semangat pembebasan Al-Quds dalam setiap kata yang diucapkannya. Itulah kesan saat berbincang dengannya, Jumat (20/2/2026). 

Sebagai Wakil Ketua Ulama untuk Palestina, hidupnya adalah sebuah perjalanan panjang yang melintasi batas-batas geografi, disiplin ilmu, hingga pengabdian tanpa tepi. 

Tempaan dari Desa ke Kota 

Kisah Syaikh Abdullah dimulai di Sana’a, ibu kota Yaman. Namun, masa kecilnya tidak dihabiskan dalam kemanjaan kota. Saat usianya baru menginjak tujuh tahun, di mana anak-anak biasanya masih lekat dengan dekapan ibu, sang ayah mengirimnya ke sebuah institut berasrama di pedesaan. 

"Saya tinggal di sana bersama para siswa lainnya. Saya menetap hingga usia sepuluh tahun," kenangnya.  

Pengasingan dini itu bukan tanpa alasan. Sang ayah sedang membentuk mentalitas baja dan kemandirian dalam diri Abdullah muda. Pendidikannya berlanjut ke Arab Saudi, menghafal Al-Qur’an di sekolah Abi Zaid al-Anshari, hingga akhirnya kembali ke Yaman untuk mendalami ilmu syariah dan ilmu terapan di Institut Ilmiah Sana’a.  

Abdullah dewasa menjadi perpaduan unik. Ia seorang Doktor Ekonomi Pembangunan yang fasih bicara perbankan Islam, namun ia juga seorang "orang lapangan" yang tak betah duduk di balik meja. Karakter ini ia tunjukkan saat mendirikan pabrik furnitur, mengelola peternakan unggas, hingga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi di Universitas Al-Iman. 

"Bahkan ketika saya mengelola perusahaan atau universitas, saya tidak duduk di kantor. Saya langsung turun ke lapangan," ujarnya dengan mata berbinar. 

Terusir oleh Badai Politik 

Jalan dakwah dan profesionalismenya tak selalu mulus. September 2014 menjadi catatan kelam saat kelompok Houthi menduduki Sana’a. Rumah dideportasi, universitas diduduki. Abdullah dan keluarganya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran. Namun, bagi seorang pejuang, bumi Allah itu luas.

syaikh majid 2.JPG 146.39 KB
Ia memindahkan pusat aktivitasnya ke Istanbul, Turki. Di sana, ia tidak hanya mendirikan perusahaan farmasi berbasis pengobatan Nabawi, tetapi juga mendirikan Akademi Rasyidun Internasional. Baginya, pendidikan tidak boleh mati hanya karena senapan lawan. 

Panggilan Taufan Al-Aqsa 

Titik balik terbesar dalam hidupnya terjadi saat peristiwa Taufan Al-Aqsa meletus. Di saat banyak orang menghitung laba rugi bisnis di tengah krisis, Abdullah mengambil langkah ekstrem. Ia memfokuskan penuh dirinya untuk perjuangan Palestina.  

Pilihan ini didukung penuh oleh ayahnya yang saat itu tengah terbaring sakit di rumah sakit. Sang ayah justru memerintahkannya untuk pergi berjihad melalui diplomasi dan penggalangan kekuatan ulama, ketimbang menunggunya di bangsal rumah sakit. 

"Kukatakan pada rekan-rekan: 'Kalian saja yang mengelola bisnis ini, aku sekarang akan mencurahkan seluruh waktuku untuk urusan Palestina'," tegasnya.  

Bagi Abdullah, Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan urusan keimanan. Ia merumuskan konsep lima tanah air bagi seorang Muslim: Makkah, Madinah, Masjidil Aqsa, negeri kelahiran, dan seluruh negeri Islam.  

"Barangsiapa yang lebih mementingkan negerinya sendiri daripada Masjidil Aqsa atau Makkah, maka imannya lemah," ucapnya lugas. 

Jihad dari Jarak Jauh 

Ia menekankan pentingnya "Jihad Media" dan "Jihad Harta". Menurutnya, satu dollar atau satu rupiah yang disumbangkan, atau satu video kejahatan Zionis yang diterjemahkan dan disebarkan, adalah peluru yang nyata.  

Ia juga menegaskan untuk tetap melakukan Boikot produk yang mendukung kezaliman yang terjadi di Palestina. Namun, di atas segalanya, ia mengingatkan tentang senjata yang paling mematikan. 

"Ada 'anak panah' yang sangat kuat, yaitu dua rakaat di tengah malam, merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa untuk mereka. Ini adalah anak panah malam yang tidak akan pernah meleset," tuturnya dengan nada rendah namun penuh penekanan. 

Di akhir perbincangan, Syaikh Abdullah menitipkan pesan bagi persatuan umat. Ia mengimbau agar umat tidak berkonflik, tapi harus saling merangkul dan memberi nasihat. 

Bersama IMPACT dan DT Peduli 

Melalui program Indonesian Movement for Palestine Aid, Collaboration & Trust (IMPACT) yang digelar oleh DT Peduli, Syaikh Abdullah membawa misi perjuangan untuk Al-Aqsa ke Indonesia. Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki peran dalam pembebasan Al-Quds, tak peduli seberapa jauh jaraknya. 

syaikh majid 3.JPG 158.97 KB
Program IMPACT merupakan transformasi dari program Peduli Palestina yang menghadirkan syaikh-syaikh dari Palestina atau syaikh yang berfokus pada pembebasan Al-Aqsa. Program ini bertujuan memberikan dampak nyata bagi warga Palestina dan umat Muslim dunia.  

Program ini dijadwalkan berlangsung selama 20 hari di bulan suci Ramadhan, mulai 22 Februari hingga 13 Maret 2026. Rangkaian safari dakwah ini akan menjangkau 19 kota dengan total 140 titik lokasi di seluruh Indonesia. 

Baca juga: Ramadhan untuk Palestina, DT Peduli Resmi Luncurkan IMPACT 

Penyunting: Agus ID 

Ditulis Oleh:

Administrator