Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Irdan Rizki tidak dapat berjalan hingga usianya lima tahun. Sejak kecil ia hidup berdampingan dengan kondisi daksa, sebuah keterbatasan fisik yang tidak ia pandang sebagai halangan. Justru sebaliknya, ia menerimanya sebagai karunia yang membentuk dirinya.
“Disabilitas bukanlah suatu kekurangan, tetapi ujian yang penuh hikmah untuk meningkatkan derajat manusia,” ujarnya mantap saat acara MQ Pagi awal November 2025.
Keyakinan itu selaras dengan yang dirasakan Santi Rahmawati. Kaki kiri yang bengkok sejak lahir membuatnya dihadapkan pada pilihan berat: operasi dengan risiko tinggi atau menerima takdir.

“Jangan lihat kekurangan, tapi pergunakan segala potensi yang kita miliki,” pesannya lantang, mengingatkan bahwa setiap manusia dibekali kemampuan sekaligus kekuatan.
Kisah Irdan dan Santi hanyalah dua dari sekian banyak cerita inspiratif yang menjadi nadi perjuangan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) DT Peduli. Memasuki peringatan Hari Disabilitas Internasional setiap 3 Desember, DT Peduli menegaskan kembali misinya yakni mengubah stigma belas kasihan menuju pemberdayaan dan potensi.
Selama bertahun-tahun, penyandang disabilitas hidup dalam tiga lingkaran tantangan, yakni aksesibilitas fasilitas umum yang terbatas, peluang kerja yang sempit, dan stigma sosial yang menempel tanpa ampun. Tidak jarang stigma itu justru lahir dari lingkungan yang paling dekat, yakni keluarga. Padahal, setiap individu diciptakan dengan potensi unik yang layak dihargai.
Deni Rizki Setiawan, Kepala Kantor DT Peduli Jakarta, menegaskan bahwa perubahan cara pandang adalah hal paling mendesak saat ini. Implementasi regulasi kuota kerja (2% untuk pemerintah dan 1% untuk swasta) masih jauh dari optimal, dan banyak orang masih memandang difabel sebagai objek bantuan.
“Mereka (disabilitas) itu bukan objek untuk menerima bantuan, Urgensinya adalah bagaimana memastikan bahwa penyandang disabilitas itu tidak hanya dibantu hidupnya, tapi diberdayakan martabatnya sehingga mereka benar-benar bisa mandiri, produktif, dan memiliki daya saing,” tegas Deni.

“Satu langkah buat mereka bisa jadi seratus langkah buat kita,” ujar Iwan, menggambarkan betapa berharganya dukungan kecil yang tepat sasaran.
DT Peduli merancang program-program pemberdayaan yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian. Fokusnya jelas, yakni memberikan keterampilan, bukan sekadar bantuan sesaat.
Program tersebut di antaranya Pelatihan Menjahit, yang membawa Santi berkarya di Rumah Karya Parompong; Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Lele di Semarang oleh Eko, penyandang tuna daksa yang kini mandiri; Pelatihan Keterampilan Digital bekerja sama dengan XL Smart; dan Pelatihan Barbershop dan Barista, membuka peluang baru bagi difabel korban kecelakaan motor untuk membangun kembali hidupnya. 
“Ketika rasa percaya dirinya tidak muncul, apa pun kita berikan, seperti modal usaha, pelatihan, itu akan sia-sia karena mereka tidak bisa memulai,” jelas Deni. Itulah sebabnya setelah kepercayaan diri tumbuh, DT Peduli memberikan akses modal tanpa syarat rumit serta link and match agar peserta dapat langsung terhubung dengan dunia kerja dan usaha.
Indikator keberhasilan bagi DT Peduli tidak semata-mata berbentuk angka atau aset. Mereka menggunakan ukuran yang lebih dalam, yakni transformasi spiritual.
“Indikator keberhasilannya bukan hanya pendapatan nominal, tapi juga ada perubahan spiritual. Yang tadinya mungkin sahabat kita belum bisa ngaji, didampingi, dibina, mereka bisa mengaji, mampu menjaga salat lima waktu, bahkan berjamaah di masjid,” kata Deni. 
Pada akhirnya, kisah-kisah ini menunjukan keterbatasan fisik bukanlah batas untuk bermimpi dan berprestasi. Irdan, Santi, dan ratusan sahabat disabilitas lainnya telah membuktikan bahwa keyakinan, dukungan yang tepat, dan keberanian untuk melangkah adalah bahan bakar menuju kemandirian.
Baca juga: XLsmart Peduli Dorong Kewirausahaan Disabilitas Lewat Literasi Digital
Editor: Agus ID