Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BIREUEN – Di bawah atap Meunasah Desa Krung Bekah, Kecamatan Peusangan Selatan, aroma uap dari kuali besar dapur umum membubung tinggi, menyatu dengan udara lembap sisa hujan Januari 2026. Di tempat inilah, sekitar 300 porsi makanan diolah setiap harinya untuk warga yang rumahnya masih terendam lumpur. Di tengah hiruk-pikuk pascabencana, ada seorang remaja yang menarik perhatian karena ketenangannya yang tak biasa.
Ia adalah Abrar, siswa kelas 1 SMKN 1 Bireuen. Mengenakan pakaian seadanya hasil bantuan relawan, Abrar duduk di salah satu sudut posko kesehatan DT Peduli. Di usianya yang baru menginjak belasan tahun, ia harus menyaksikan rumah keluarganya tak lagi bisa ditempati. Namun, saat dr. Asep, seorang relawan medis, mengajaknya berbincang, tidak ada keluh kesah yang meluncur dari bibirnya.
“Dalam kondisi seperti ini, apa hikmah yang kamu rasakan?” tanya dr. Asep dengan nada lembut.
Abrar terdiam sejenak. Matanya menatap kejauhan, lalu menjawab dengan suara yang mantap. “Mungkin ya banyak-banyak bersyukur. Setidaknya kita masih dikasih kehidupan oleh Allah,” ujarnya lirih namun bermakna dalam.
Jawaban itu seolah memecah kesunyian di posko medis. Bagi banyak orang, kehilangan tempat tinggal adalah tragedi yang mematikan semangat. Namun bagi anak kedua dari dua bersaudara ini, hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah yang masih layak dirayakan di tengah bencana. 
Banjir memang telah memutus akses jalannya menuju sekolah. Meski tahun ajaran baru telah dimulai, Abrar terpaksa absen karena jarak dan kondisi infrastruktur yang belum pulih. Namun, ia tidak membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Di pengungsian, ia beralih peran menjadi relawan kecil yang membantu menyalurkan bantuan bagi warga lain yang membutuhkan.
Ketabahan Abrar bersumber dari satu hal, yakni sabar. Baginya, sabar bukan sekadar menunggu air surut, melainkan cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
"Lebih mendekatkan diri pada Allah, banyak doa," tambahnya saat ditanya bagaimana ia menghadapi hari-hari sulit di pengungsian.
Di balik kesederhanaannya, Abrar menyimpan ambisi besar yang melampaui batas-batas desa yang terendam air. Saat ditanya mengenai masa depannya, matanya seketika berbinar. Ia bercita-cita menjadi seorang Software Engineer atau teknisi di bidang Teknologi Informasi (IT). Sebuah mimpi modern yang ia rajut di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.
Jembatan Kemanusiaan
Kehadiran tim medis DT Peduli di Desa Krung Bekah bukan sekadar memberikan layanan fisik bagi warga yang mulai terserang penyakit pascabanjir. Lebih dari itu, mereka hadir sebagai pendengar dan penguat mental bagi korban seperti Abrar.
Dr. Asep mengakui bahwa berdialog dengan remaja seperti Abrar memberikan suntikan semangat bagi para relawan. “Dalam bencana apa pun ternyata selalu ada syukur. Ini nih Masya Allah. Beliau mengatakan walaupun ada bencana, walaupun ada banjir, tapi diberi masih diberi kehidupan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syukur. Yang kedua, sabar, " ungkap dr. Asep. 
Saat dr. Asep berpamitan, ia meninggalkan sebuah doa bagi remaja itu. Doa agar cita-cita menjadi insinyur itu tercapai dan syukur yang dimilikinya tetap menjadi kompas dalam menjalani hidup yang tak menentu. Di Meunasah Krung Bekah, banjir mungkin masih menyisakan lumpur, namun tidak menenggelamkan rasa syukur, kesabaran, dan cita-cita Abrar.
Baca juga: Kisah Banjir Bandang Menerjang Alue Kuta, Bireuen
Penulis: Eko/AID
Penyunting: Agus ID