Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Bunyi ledakan mungkin sudah menjadi keseharian yang menyesakkan bagi warga Gaza. Namun belakangan ini, suara yang lebih memilukan terdengar dari sudut-sudut kamp pengungsian, yakni rintihan kelaparan yang mengarahkan pada kematian.
Kondisi memilukan ini disampaikan langsung oleh Atallah Abu Ouda, Deputy Director Al-Kautsar Foundation (AKF) Southeast Asia, dalam wawancara khusus bersama DT Peduli pada Jumat (18 /7 2025). Wawancara dilakukan usai rapat koordinasi bersama DT Peduli di Kantor Pusat DT Peduli, Bandung, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi kemanusiaan untuk Palestina. 
“Mereka sudah melewati perang genosida, perang pembersihan etnis. Kini, warga Gaza sedang sekarat karena kelaparan,” tutur Atallah membuka pernyataannya.
Ia menggambarkan situasi Gaza dengan nada yang dalam dan penuh keprihatinan. Menurutnya, penderitaan rakyat Palestina bukan hanya karena serangan militer yang tanpa henti, melainkan akibat kelangkaan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Mereka menunggu bantuan kita. Bayangkan, bayi dan anak-anak tidak punya susu, tidak punya popok. Keluarga saya di Deir al-Balah, kemarin baru saja menghubungi saya. Mereka hanya punya makanan untuk dua atau tiga hari ke depan, dan itu pun hanya nasi polos dan makaroni. Tidak ada nutrisi,” ungkapnya.
Menurut Atallah, daging, ayam, sayur, dan buah-buahan hampir mustahil didapatkan. Kalaupun ada, harganya sangat mahal.
“Satu kilogram sayur bisa mencapai 70 dolar, atau minimal 20 dolar. Sangat mahal. Tidak terjangkau,” ujarnya.
Krisis ini, lanjut Atallah, telah membuat masyarakat Gaza terjebak dalam kelaparan berkepanjangan. Dalam kondisi seperti ini, ia menyebut bahwa bantuan kemanusiaan yang tepat sasaran sangatlah penting.
“Alhamdulillah, tim kami masih bisa bergerak di dalam Gaza. Kami terus berikhtiar menghadirkan dapur umum, membagikan makanan siap saji, mendistribusikan air bersih, paket kebersihan, serta hygiene kit khusus untuk perempuan dan bayi,” jelasnya.
Program-program tersebut, menurutnya, menjadi prioritas utama dalam menjaga ketahanan hidup dan martabat masyarakat Gaza.
“Bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk menjaga kehormatan mereka sebagai manusia,” katanya menegaskan.
Menutup wawancara, Atallah menyampaikan rasa terima kasih dan cinta mendalam kepada masyarakat Indonesia.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih ribuan kali. Terima kasih, hatur nuhun atas semua dukungan dari Indonesia. Kami, rakyat Palestina, sangat mencintai dan menghargai rakyat Indonesia. Tapi kami memohon, teruslah memberi. Teruslah mendukung saudara-saudara kalian di Gaza, karena mereka sangat membutuhkan,” pungkasnya.
Baca juga: DT Peduli Bagikan Nasi Hangat Siap Santap bagi Warga dan Pengungsi Sekitar Masjid DT Gaza
Penulis: AID
Editor: Agus ID