Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | Ramadhan telah berlalu. Suasana masjid yang sebelumnya ramai dengan salat tarawih dan lantunan tadarus kini kembali seperti hari-hari biasa. Hidangan buka puasa bersama yang dahulu tersaji di berbagai tempat perlahan menghilang. Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak ikut pergi bersama berakhirnya Ramadhan, yakni semangat berbagi kepada sesama.
Selama bulan suci, umat Muslim seakan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sedekah mengalir, zakat ditunaikan, dan berbagai bantuan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ramadhan menjadi momentum yang menghidupkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Semangat kepedulian itu menjadi bekal untuk terus peduli pascaramadhan. Sejatinya, Islam tidak pernah membatasi kebaikan hanya pada satu waktu tertentu, namun menyebutkan waktu-waktu utama untuk menunaikannya. Allah ﷻ menjelaskan keutamaan berbagi atau bersedekah kapanpun dilakukan.
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dorongan kuat untuk bersedekah di jalan Allah, karena pahala yang diberikan tidak hanya setara dengan apa yang dikeluarkan, tetapi berlipat ganda sesuai kehendak-Nya.
Mengikuti Jejak Rasululllah ﷺ, Sahabat, dan Tabiin
Rasulullah ﷺ. juga memberikan teladan nyata tentang kedermawanan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas ra. berkata:
“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya.” (HR. Bukhari Muslim)
Para ulama, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran memperbanyak sedekah dan amal kebajikan, khususnya di bulan Ramadhan, sekaligus menegaskan bahwa sifat dermawan adalah karakter utama seorang Muslim.
Teladan tersebut juga tampak pada para sahabat Nabi. Salah satu kisah yang terkenal adalah kedermawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Ketika Rasulullah ﷺ. menganjurkan para sahabat untuk bersedekah, Umar bin Khattab ra. datang membawa setengah dari hartanya. Namun Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya.
Ketika Rasulullah ﷺ. bertanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” (HR. At-Tarmidzi)
Semangat berbagi juga diwarisi oleh generasi tabi’in. Salah satu tokoh yang terkenal dengan kedermawanannya adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Ia dikenal sering membantu orang-orang miskin secara diam-diam. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia kerap melunasi utang orang lain tanpa diketahui siapa yang membayarnya.
Kisah-kisah tentang kezuhudan dan kedermawanan Abdullah bin Mubarak banyak disebutkan dalam kitab klasik seperti Hilyat al-Auliya karya Imam Abu Nu‘aim al-Ashbahani dan juga dalam Siyar A‘lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi.
Semangat berbagi yang diwariskan oleh Rasulullah, para sahabat, dan generasi tabi’in itulah yang seharusnya terus hidup dalam kehidupan umat Islam hingga hari ini. Ramadhan menjadi madrasah yang melatih hati agar lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Istiqamah Berbagi Lewat Program Kebaikan
Pascaramadhan, semangat tersebut dapat terus dijaga melalui berbagai program kebaikan. Salah satunya melalui DT Peduli yang menghadirkan berbagai program untuk memfasilitasi masyarakat dalam menebar dan meneguhkan kepedulian.
Melalui program Sedekah Subuh, masyarakat diajak untuk menjaga konsistensi berbagi dengan menyisihkan sebagian rezekinya secara berkala. Ada pula Program Beasiswa Pendidikan yang membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat mengenyam pendidikan.
Selain itu, sedekah untuk program dakwah dan pemberdayaan juga menjadi sarana kebaikan jangka panjang melalui pembangunan sarana ibadah, pendidikan, serta program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam bidang kemanusiaan, DT Peduli juga aktif menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana maupun krisis kemanusiaan di dalam negeri maupun luar negeri, terutama Palestina.
Program-program ini menjadi jembatan bagi masyarakat yang ingin menjaga semangat berbagi setelah Ramadhan. Sebab kebaikan tidak seharusnya berhenti ketika bulan suci berakhir.
Ramadhan mungkin telah berlalu, tetapi nilai-nilai yang ditanamkannya seharusnya tetap hidup dalam keseharian. Ketika semangat berbagi terus dijaga, maka keberkahan Ramadhan akan tetap menyala sepanjang waktu.
Baca juga: Sedekah di Waktu Subuh, Saat Terbaik Mengetuk Pintu Langit
Penyunting: Agus ID