Dipublish pada:
DTPEDULI.ORG | BEKASI – Malam itu, Senin (27/4/2026), langit Bekasi Timur tidak hanya pekat oleh mendung, tetapi juga oleh jerit histeris yang membelah kesunyian peron. Suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi neraka besi ketika rangkaian KA Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang KRL Commuter Line yang sedang tertahan. Benturan dahsyat itu tak hanya meluluhlantakkan gerbong, tetapi juga menghancurkan ratusan harapan hidup dalam sekejap.
Tragedi ini diduga bermula dari sebuah taksi listrik Green SM yang mengalami mati mesin di perlintasan JPL 85 sekitar pukul 20.30 WIB. Kendala teknis di atas rel tersebut memicu rantai kejadian fatal yang mengakibatkan KRL terhenti di jalur, hingga akhirnya ditabrak dari belakang oleh kereta eksekutif yang melaju kencang.
Data resmi KAI mencatat 15 nyawa melayang dan 91 orang lainnya luka-luka. Di balik angka-angka, ada pemandangan yang jauh lebih memilukan bagi mereka yang terjun langsung ke lapangan.
Selasa pagi, tim relawan DT Peduli Bogor telah berada di lokasi kejadian. Di tengah debu besi dan aroma menyengat, Maribah, Relawan DT Peduli, berdiri terpaku menatap gerbong terakhir KRL yang ringsek tak berbentuk.
"Gerbong itu 'melipat' ke dalam karena lokomotif Argo Bromo masuk ke dalam rangkaian KRL," kenang Maribah dengan suara berat.
Ia menceritakan betapa proses evakuasi menjadi ujian mental yang berat bagi siapa pun. Saat evakuasi awal selesai dilakukan, tim masih menemukan kenyataan pahit banyak bagian tubuh korban yang tertinggal di antara himpitan baja.
Ada satu momen yang tak terlupakan bagi tim saat berkoordinasi dengan petugas KAI dan TNI di lokasi. Mereka melihat tetesan darah yang terus mengalir dari sela-sela bangkai kereta yang ringsek. Logikanya, darah dari kecelakaan semalam seharusnya sudah mengering.
"Darahnya terus 'ngeces' (menetes) sampai siang saat bangkai kereta diangkat. Ternyata posisinya bukan di bawah kereta, tapi di antara lipatan-lipatan besi. Harus dipotong dulu baru kelihatan. Pengamatan tim di lapangan meyakini itu darah segar, yang berarti mungkin masih ada potongan tubuh yang terjepit di sana," ungkap Maribah. 
“(Ini) kejadian yang sangat memprihatinkan karena korban sangat banyak ya berjatuhan, dan kesiapan dari warga pun belum bisa untuk evakuasi mandiri. Jadi harus banyak edukasi lagi ke masyarakat tentang edukasi untuk evakuasi mandiri ketika terjadi kecelakaan,” tuturnya dengan suara sesak setelah membuang nafas panjang.
Selain itu, ia mencatat bahwa infrastruktur evakuasi di stasiun saat ini masih menjadi tantangan besar.
"Jalur evakuasinya cukup rumit. Dari gerbong yang kecelakaan, korban harus dibawa naik ke lantai dua dulu baru bisa turun ke arah ambulans. Ini menjadi catatan penting bagi kita semua," tambahnya.
Meski duka masih menggelayuti Bekasi, DT Peduli berkomitmen untuk tidak membiarkan para korban berjuang sendirian. Dengan perlengkapan medis lengkap, mulai dari ambulans, tandu scoop, hingga tabung oksigen, tim terus bersiaga di RSUD Kota Bekasi untuk melakukan pendataan dan pendampingan.
Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat. Tak berhenti di situ, DT Peduli juga tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menyalurkan santunan bagi keluarga korban meninggal dunia serta bantuan biaya pengobatan bagi mereka yang terluka.

Bangkai kereta mungkin bisa disingkirkan, namun trauma dan tetesan darah di Stasiun Bekasi Timur akan selalu menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya kesiapsiagaan dan kasih sayang antarsesama di tengah duka.
Baca juga: Patah Kaki Akibat Kecelakaan, DT Peduli Dampingi Kang Undang Jalani Terapi
Penyunting: Agus ID