“Syukur-syukur masih bisa makan aja dulu mas,” kalimat lirih itu keluar dari mulut Pak Sahdan, seorang kakek berusia 65 tahun yang kini hidup sebatang kara di Dusun Pepekat Lauk, Batu Nyala, Lombok Tengah.
Tubuhnya sudah renta, namun ia masih berjuang untuk bertahan di rumah kecil berukuran 3x3 meter, berdinding triplek, beratap spanduk bekas, dan bocor di hampir setiap sudut.
Setiap kali hujan turun, Pak Sahdan terpaksa menumpang tidur di rumah tetangga, karena air menetes deras dari atap yang nyaris roboh. Malam-malam dingin ia lalui dalam cemas, takut rumah tua itu benar-benar ambruk menimpa dirinya.
Lebih memilukan lagi, ia tidak memiliki MCK dan saluran air, sehingga harus menumpang di kamar mandi umum untuk sekadar mandi atau buang air.
Dulu, Pak Sahdan masih bisa berjualan kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi sejak kecelakaan menimpanya, langkahnya tak lagi sekuat dulu. Kini ia hanya bisa mengandalkan pekerjaan serabutan yang kadang ada, kadang tidak.
“Rumah ini dibangun gotong royong oleh warga, dulu saya tidur di gubuk dari karung dan kayu bekas,” ucap pak Sahdan pelan, mengenang masa lalu yang penuh perjuangan.

Sahabat Peduli, Pak Sahdan tidak meminta banyak. Ia hanya ingin punya tempat berteduh yang layak. Mari Bersama kita bantu wujudkan harapan itu, bantuan yang sahabat berikan bisa menjadi berkah yang besar bagi hidup beliau.
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Dilancarkan segala urasan dan berkah untuk kita semua aamiin
Sehatkan kami selalu