berkah-berbagi-paket-buka-puasa-dtpeduli
berkah-berbagi-bingkisan-lebaran-dtpeduli
wakaf-al-quran-plus-dtpeduli
berkah-berbagi-paket-sahur-dtpeduli
berkah-berbagi-paket-ibadah-dtpeduli
nraktir-7-negara-dtpeduli
wakaf-sarana-pendidikan-dakwah-dtpeduli
158.215

Penerima Manfaat (2021)

153.956

Paket Program (2021)

2.076

Lokasi Penyaluran (2021)

148.838

Penerima Manfaat (2022)

148.838

Paket Program (2022)

2.790

Titik Distribusi di Indonesia & 7 Negara (Palestina, Jordania, Somalia, Banglades, Myanmar, Australia dan Turki)

Dokumentasi Ramadhan Peduli Negeri 2021

Dokumentasi Ramadhan Peduli Negeri 2022

Hitung Zakat Fitrah

Pilih harga beras yg dikonsumsi :
Jumlah jiwa : * 1 Jiwa 3 Kg
Rp 36.000
Bayar Zakat Fitrah

Hitung Fidyah

Pilih Konversi Fidyah ke Rupiah :
Jumlah Hari :
Rp 20.000
Bayar Fidyah sekarang

Frequently Asked Questions

Pertanyaan seputar Ramadhan

  • Niat puasa yang benar seperti apa?

    Sebenarnya Ketika seseorang bangun tidur kemudian sahur, sudah berniat puasa.
    Letak niat di dalam hati, Muhammad Al Hishni berkata . “Puasa tidaklah sah kecuali dengan niat karena ada hadits yang mengharuskan hal ini. Letak niat adalah di dalam hati dan tidak disyaratkan dilafazhkan.” (Kifayatul Akhyar, hal. 248)

    Muhammad Al Khotib berkata, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat, namun niat letaknya di hati. Niat tidak cukup di lisan. Bahkan tidak disyaratkan melafazhkan niat. Sebagaimana telah ditegaskan dalam Ar Roudhoh.” (Al Iqna, 1 :404)
    Itulah rujukan dari kitab Syafi’I mengenai masalah niat.

  • Imam madzhab yang empat berpendapat waktu sahur itu berakhir Ketika telah terbit fajar shadiq (thulu’ al-fajr al-shadiq). Dengan kata lain, waktu sahur berakhir hingga adzan Subuh.
    Dalilnya firman Allah SWT yang artinya “Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah (2) : 187)
    Ayat ini menunjukan bahwa makan minum (sahur) masih boleh hingga jelas/terang (tabayyun) bahwa fajar sudah datang.

  • Baiknya mengikuti masjid yang terbiasa shalat disana dengan tetap memperhatikan jadwal salat yang sudah ditetapkan oleh Kemenag setempat. Bagi yang jam di masjidnya tidak sesuai, maka mintalah kepada pengurus DKM untuk menyesuaikan jamnya dengan jam Nasional yang biasa ada di TV Nasional.
    (oleh : Ustadz Ali Nurdin, LC, M.E.I. (Dewan Pengawas Syariah DT Peduli))

  • Bisa menggunakan petunjuk waktu salat yang ada di gadgetnya masing masing, tapi jika memungkinkan mendengar adzan maghrib, maka adzan tersebut sebagai penentu waktu berbuka puasa.
    (oleh : Ustadz Ali Nurdin, LC, M.E.I. (Dewan Pengawas Syariah DT Peduli))

  • Jika takut terhadap janin yang dikandungnya atau terhadap bayi yang disusuinya kekurangan asupan air susu karena berpuasa, maka boleh tidak berpuasa dan hal ini tidak ada perselisihan diantara para ulama. Dalil yang menunjukan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, Wanita hamil dan menyusui.”

  • Ketika Allah membahas rukhshah orang yang boleh untuk tidak berpuasa, didampingkan juga dengan QS. Al-Baqarah ayat 184:

    "(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Di akhir ayatnya, "Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui"

    Artinya berpuasa lebih baik jika masih sanggup. Apalagi, di Bulan Ramadhan adalah puasa wajib.
    Namun jika sudah tidak sanggup atau ada udzur syar'i, diperbolehkan berpuasa dan mengganti puasa tersebut.

  • Hadits tentang tidurnya orang puasa adalah ibadah :

    “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”

    Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437.

    Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

    Maka tidak bisa dijadikan hujjah/landasan.
    Akan lebih baik ketika orang berpuasa, memperbanyak beramal Sholeh dan tidak bermalas-malasan.

  • Salah satu mitos simpang siur yang terjadi adalah tidak bolehnya renang ketika puasa. Padahal, renang sama saja seperti mandi. Tentunya tidak menelan air dengan sengaja ya.
    (oleh : Ustadz Ali Nurdin, LC, M.E.I. (Dewan Pengawas Syariah DT Peduli))