Banjir dan longsor telah berlalu, namun duka masih menyelimuti ribuan keluarga di Sumatera. Lebih dari 92.000 jiwa di Aceh terpaksa bertahan di tenda-tenda pengungsian selama berbulan-bulan. Siang hari mereka kepanasan, dan malam hari kedinginan.
Bencana banjir dan longsor di akhir tahun lalu telah merenggut banyak hal. Data BNPB mencatat 147.236 rumah rusak. Di Aceh Tamiang, sapuan banjir yang membawa kayu-kayu gelondongan meluluhlantakkan tempat tinggal warga dalam sekejap.
Kini, kehidupan di pengungsian terasa kian berat. Bapak Samiran (50), salah satu penyintas, harus rela menjalani hari-hari bahkan melewati momen Ramadhan dengan kondisi serba terbatas di tenda pengungsian.
Di beberapa wilayah, banjir ini bukanlah bencana sekali lewat, melainkan ancaman tahunan yang terus berulang. Memberikan sekadar tenda darurat tak lagi cukup untuk melindungi mereka di masa depan.
Kita tidak bisa menghentikan hujan, tapi kita bisa membangun hunian yang lebih adaptif. Bersama tim ahli dari SAPPK-ITB dan Universitas Almuslim Bireuen, DT Peduli merancang RUPATUH (Rumah Panggung Tumbuh).
Ini bukan sekadar rumah biasa. RUPATUH mengusung prinsip Build Back Better dengan menghidupkan kembali kearifan lokal arsitektur tradisional Aceh.
Fase darurat telah usai, kini saatnya fase pemulihan. Mari ringankan beban mereka dan bangun kembali kehidupan di Sumatera. Anda bisa berdonasi berapapun, atau patungan memilih paket kebaikan berikut:
Tiap rupiah yang Anda berikan adalah tiang penyangga harapan mereka.
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
Bedonasi sebesar
semoga sumatera cepat pulih.. aamiin..