Kampung Zakat Bontomanai Resmi Diluncurkan, DT Peduli Sulsel Ambil Bagian dalam Pemberdayaan Warga
Kampung Zakat Bontomanai resmi diluncurkan di Gowa, melibatkan DT Peduli Sulsel dalam pemberdayaan kelompok tani wanita untuk kemandirian ekonomi.

DTPEDULI.ORG | GOWA — Lahan sawah yang biasanya menganggur setelah panen padi kini mulai dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Inisiatif ini berawal dari keresahan Hasni Dg. Lebang, warga Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, yang ingin menambah penghasilan keluarga sekaligus mengoptimalkan lahan pertanian.
Hasni kemudian mengajak anggota majelis taklimnya membentuk kelompok tani wanita yang bergerak di bidang pertanian hortikultura. Inisiatif tersebut menjadi salah satu bagian dari pemberdayaan masyarakat melalui Kampung Zakat Bontomanai, yang resmi diluncurkan pada Senin (2/11/2026).

Kampung Zakat Bontomanai merupakan program kolaborasi sejumlah lembaga zakat bersama Kementerian Agama. Pada awalnya, program yang terdaftar di Kementerian Agama pusat ini didukung oleh dua lembaga, yakni LAZ Al-Fityan dan BAZNAS.
Dalam perkembangannya, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mengumpulkan sejumlah lembaga amil zakat (LAZ) yang beroperasi di wilayah tersebut untuk membahas penguatan program Kampung Zakat Bontomanai. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua bulan sebelum peluncuran itu kemudian ditindaklanjuti dengan survei bersama ke lapangan.
Berdasarkan hasil asesmen, sejumlah LAZ turut terlibat dalam program tersebut, salah satunya ialah Daarut Tauhiid (DT) Peduli Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel). DT Peduli Sulsel mengambil bagian dalam pendampingan kelompok tani wanita berbasis majelis taklim yang salah satu penggeraknya adalah Hasni Dg. Lebang.

Peluncuran Kampung Zakat Bontomanai dihadiri Direktur Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Bupati Gowa Ir. H. Darmawansyah Muin, S.T., M.Si., jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Gowa, serta masyarakat setempat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. KH. Ali Yafid, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan rasa syukurnya dapat menghadiri peluncuran salah satu dari 12 Kampung Zakat yang ada di Sulawesi Selatan.
“Saya sangat bersyukur bisa menghadiri Kampung Zakat, total ada 12 Kampung Zakat yang berada di daerah Sulawesi Selatan. Terkhusus di Bajeng Barat, ini semua merupakan hasil keterlibatan seluruh LAZ. Tanpa dukungan mereka, kita tidak bisa melakukan intervensi secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pembinaan keagamaan.
“Pemberdayaan SDM, khususnya untuk masyarakat Bajeng Barat, perlu menjadi perhatian seluruh LAZ melalui pelatihan-pelatihan. Dari segi keagamaan juga harus senantiasa diperkuat, sehingga masyarakat di Kampung Zakat dapat terbantu, baik dari sisi pemberdayaan maupun spiritual,” jelasnya.
Bupati Gowa, Ir. H. Darmawansyah Muin, S.T., M.Si., mengingatkan agar kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Jika kita serius menyukseskan program ini, kita harus berlomba untuk melakukan perbaikan. Diperlukan niat baik dan ketulusan seluruh pemangku kepentingan. Jangan sampai program ini sekadar seremonial. Harapannya, program ini menjadi program unggulan dan kebanggaan Kabupaten Gowa. Dari yang semula mustahik atau penerima manfaat, diharapkan kelak bisa menjadi muzaki,” tegasnya.
Bagi DT Peduli Sulsel, pendampingan terhadap kelompok tani wanita seperti yang digerakkan Hasni merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat melalui Kampung Zakat.
Kepala Kantor Perwakilan DT Peduli Sulawesi Selatan, Hasmirah, mengatakan bahwa program ini diarahkan untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Melalui Kampung Zakat Bontomanai, DT Peduli ingin membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Bukan hanya memberikan bantuan, tetapi mendampingi masyarakat agar memiliki keterampilan, penghasilan, kepercayaan diri, dan masa depan yang lebih mandiri,” kata Hasmirah.
Melalui pendampingan tersebut, kelompok tani wanita di Bontomanai mulai memanfaatkan lahan setelah panen padi untuk menanam berbagai jenis sayuran. Inisiatif yang berawal dari majelis taklim ini diharapkan dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Penulis : Indar
Penyunting : Cristi A. Sarif



