Dakwah Cirebon2 menit baca

DT Peduli Cirebon Salurkan Bekal Perjalanan untuk Mualaf Menuju Kuningan

DT Peduli Cirebon salurkan bekal perjalanan untuk mualaf Endang Kurniadi yang berjalan kaki menuju Kuningan menunaikan nazar dan mengajak keluarga mengenal Islam.

1000020269
1000020269

DTPEDULI.ORG | CIREBON — Daarut Tauhiid (DT) Peduli Cirebon memberikan bantuan bekal perjalanan kepada Endang Kurniadi, seorang mualaf yang tengah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju Kuningan untuk menunaikan nazarnya, pada Kamis (15/10/2026). Bagi Endang, perjalanan ini bukan sekadar upaya memenuhi janji, tetapi juga bagian dari ikhtiarnya mengajak keluarga kecilnya mengenal Islam.

Perjalanan hijrah Endang bermula pada Bulan Oktober Tahun 2025 silam, ketika ia memutuskan memeluk Islam. Sebelumnya, Endang menganut agama Katolik dan memiliki komunitas perdagangan di lingkungan gerejanya. Keputusan menjadi mualaf membawa perubahan besar dalam kehidupannya, sekaligus menghadirkan berbagai ujian yang harus dihadapi.

Pada awalnya, keputusan tersebut belum diketahui keluarganya. Namun, setelah informasi agama Islam tercantum dalam kartu tanda penduduk (KTP) yang sampai ke rumahnya di Kuningan, keluarganya mengetahui bahwa Endang telah memeluk Islam. Kondisi tersebut berujung pada pengusiran oleh orangtuanya. Endang kemudian meninggalkan rumah dan tinggal di Masjid Baitul Huda, Kuningan.

1000020268.jpg

Selama tinggal di masjid, Endang menyaksikan berbagai kegiatan sosial untuk membantu masyarakat, salah satunya Program Jumat Berkah. Awalnya, ia sempat mempertanyakan kegiatan berbagi tersebut. Bahkan, sebelum memeluk Islam, ia pernah menganggap kegiatan itu sebagai bentuk pemborosan.

Komentar tersebut terdengar oleh salah seorang ustaz di masjid, yakni Ustaz Fadil. Alih-alih merespons dengan kemarahan, Ustaz Fadil memberikan nasihat dengan lembut. Ia mengingatkan Endang pada makna ayat dalam Surah Ar-Rahman.

Ustaz Fadil juga menjelaskan pentingnya saling menolong dan menjaga perkataan.

“Dalam Islam, ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, sudah semestinya kita saling menolong. Namun, apabila kita belum mampu membantu, jangan sampai kita merendahkan orang lain. Jika belum bisa berkata baik, diam adalah pilihan yang lebih baik,” tuturnya.

Setelah memeluk Islam, perjalanan Endang berlanjut hingga ke Bandung. Di tengah perjalanan hidupnya, tumbuh harapan agar keluarganya juga dapat mengenal Islam.

Harapan tersebut semakin menguat ketika istrinya menyampaikan kesediaan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat setelah Endang kembali ke Kuningan dengan menunaikan nazarnya, yakni menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki.

“Bagi saya, perjalanan ke Kuningan kali ini bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan harapan saya. Saya ingin mengajak keluarga kecil saya untuk mengenal Islam dan membangun kehidupan bersama dalam keyakinan yang sama. Nazar ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar dan doa saya agar harapan tersebut bisa terwujud,” ungkap Endang.

Dalam proses menempuh perjalanan tersebut, Endang mendatangi Kantor DT Peduli Cirebon untuk memohon bantuan bekal perjalanan. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhannya selama berjalan kaki menuju Kuningan.

Setelah menerima bantuan, Endang berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. “Saya ingin menunaikan nazar dengan berjalan kaki menuju Kuningan. Lebih dari itu, saya berharap bisa mengajak keluarga kecil saya mengenal Islam dan bersama-sama menapaki kehidupan sebagai seorang muslim,” ujar Endang.

Kisah Endang menggambarkan perjalanan seseorang dalam mempertahankan keyakinan di tengah berbagai ujian kehidupan. Di balik nazar yang ingin ditunaikannya, tersimpan harapan agar keluarganya dapat mengenal Islam dan membangun kehidupan bersama.

Penulis : Ghepira Nur Ramdhona

Penyunting : Cristi A. Sarif

Penilaian Pembaca

Belum ada penilaian
Seberapa bermanfaat tulisan ini?