Dari Gowa Menuju NTT, DT Peduli Sulsel Bantu Wujudkan Harapan Agus
DT Peduli Sulsel bantu Agus, perantau asal NTT, wujudkan harapan kembali ke kampung halaman setelah 21 tahun demi berkumpul dengan keluarga.

DTPEDULI.ORG | GOWA — Setelah lebih dari dua dekade meninggalkan kampung halaman, Agus (54), perantau asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menyimpan harapan untuk kembali berkumpul bersama keluarganya. Di tengah keterbatasan hidup bersama sang istri yang tengah hamil muda, ia kini bertahan di sebuah rumah tua terbengkalai di Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Pada Rabu (23/9/2026) sore, Tim Daarut Tauhiid (DT) Peduli Sulawesi Selatan Sulsel) hadir menyalurkan bantuan sembako melalui Program Peduli Kebutuhan Mustahik. Bantuan yang bersumber dari sedekah para donatur tersebut diberikan langsung kepada Agus dan istrinya untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Penyaluran bantuan dilakukan oleh Fergiawan, Staf Program DT Peduli Sulsel. Aksi ini merupakan respons atas informasi mengenai kondisi Agus yang sebelumnya tersebar melalui konten kreator ojol, Arif Dg. Tutu.
Perjalanan hidup Agus di tanah rantau tidaklah mudah. Sekitar 21 tahun lalu, ia meninggalkan NTT dengan harapan dapat memperoleh penghidupan yang lebih baik di Makassar. Berbagai pekerjaan pernah dilakoninya demi bertahan hidup, mulai dari menjadi pengemudi bentor, memulung barang bekas, hingga bekerja sebagai buruh serabutan.
Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuatnya harus kembali berjuang dari awal. Setelah bentor miliknya terpaksa dijual, Agus kembali mengandalkan pekerjaan serabutan dan memulung untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kini, ia tidak memiliki pekerjaan maupun penghasilan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa mengandalkan belas kasihan orang lain dengan mengemis. Dalam sehari, penghasilannya terkadang hanya sekitar Rp20.000. Uang tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan bersama istrinya, Anti, perempuan asal Jeneponto yang setia mendampinginya.
Keduanya juga belum memiliki rumah sendiri. Sebelum menempati rumah tua terbengkalai di Tompobalang, mereka berpindah-pindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong lainnya di area perkebunan warga.
Keterbatasan yang mereka hadapi semakin berat karena Agus belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kondisi tersebut menyulitkannya mengakses berbagai layanan administrasi dan bantuan sosial. Di tengah situasi itu, sang istri juga tengah mengandung anak pertama mereka.
Saat menerima bantuan sembako dari DT Peduli Sulsel, Agus menyampaikan rasa terima kasih sekaligus harapan yang selama ini ia pendam.
“Terima kasih, Pak. Semoga saya bisa pulang kembali ke tanah kelahiran saya, bisa bertemu kembali bersama keluarga saya,” ucap Agus lirih.
Bagi Agus dan istrinya, bantuan sembako tersebut menjadi dukungan untuk memenuhi kebutuhan pangan di tengah keterbatasan. Namun, ada harapan lebih besar yang ingin mereka wujudkan, yakni kembali ke NTT dan berkumpul bersama keluarga setelah bertahun-tahun hidup di perantauan.
Keinginan untuk pulang semakin kuat karena Anti tengah mengandung anak pertama mereka. Keduanya berharap dapat menyambut kelahiran buah hati di tanah kelahiran, dekat dengan keluarga yang selama ini mereka rindukan.
Menanggapi harapan tersebut, DT Peduli Sulsel tidak hanya memberikan bantuan pangan. Lembaga ini juga tengah mengupayakan pendampingan untuk membantu proses kepulangan Agus dan istrinya ke NTT, sekaligus menggalang donasi guna memenuhi kebutuhan biaya perjalanan mereka.
Fergiawan menyampaikan bahwa bantuan sembako tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk meringankan beban Agus dan istrinya, sembari berharap proses kepulangan mereka dapat segera terwujud.
“Hari ini kita membantu Pak Agus dengan paket bantuan mustahik berupa sembako. Semoga melalui program ini dapat meringankan beban Pak Agus. Mohon doanya, semoga Pak Agus bisa segera pulang dan bertemu keluarga di NTT,” ujar Fergiawan.
Baca Juga : DT Peduli Sulsel dan Hisana Hadirkan Pengalaman Memasak yang Menyenangkan bagi Anak TK Nur Aqila
Penulis : Indar
Penyunting : Cristi A. Sarif



