Dipublish pada:
GAZA—Masa kecil seharusnya diisi dengan bermain, belajar, dan berlari bersama teman. Namun, bagi anak-anak Gaza, sebagian hari justru dihabiskan dengan memikul galon dan jeriken air.
Setiap pagi, mereka menempuh ratusan meter melewati jalanan berdebu dan puing-puing untuk memastikan keluarganya memiliki air.
Seorang anak bernama Yousef, mengatakan dirinya harus berjalan sekitar 700 meter untuk mendapatkan air. Ia berharap, bantuan air bersih ini bisa diterimanya setiap hari.
“Kami berterima kasih kepada Darut Tauhiid atas bantuan air untuk kami hari ini. Kami berharap bantuan ini bisa ada setiap hari,” katanya.
Namun, di balik ucapan terima kasih itu, tersimpan lelah yang sulit disembunyikan.
“Aku lelah mengangkut air sendiri. Aku ingin bermain seperti anak-anak lainnya, bermain sepak bola, dan pergi ke sekolah. Aku sudah lelah dengan semua ini,” lirihnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana krisis air ikut merenggut ruang bermain dan belajar dari kehidupan anak-anak Gaza.

Menurut data UNICEF pada Juli 2026, sekira 82% keluarga di Gaza mengalami krisis air yang parah, sedangkan sekira 70% populasi tidak dapat mengakses standar minimal air darurat, yaitu 6 liter per orang per hari.
Kerusakan infrastruktur air dan sanitasi semakin meningkatkan risiko dehidrasi dan penyakit akibat air yang tercemar, dengan anak-anak menjadi salah satu kelompok paling rentan.
Di tengah kondisi itu, penyaluran lebih dari 1,078 juta liter air oleh DT Peduli pada 9–16 September 2026 menjadi bantuan yang sangat berarti.
Setidaknya, untuk hari itu, anak-anak tak perlu melangkah sejauh biasanya hanya untuk membawa pulang air. Ada sedikit ruang untuk bernapas, tersenyum, dan kembali menjadi anak-anak.
Penulis: Admin
Penyunting: Astri Rahmayanti