Dipublish pada:
“Besok saya akan ujian. Namun, ketika mereka menghubungi saya, saya memilih untuk datang bersama kalian,” ucap dr. Abdurrahman mantap.
Sehari sebelum menghadapi ujian kedokteran, dokter muda itu justru berada di sebuah tempat yang mungkin tidak pernah ia bayangkan harus didatangi sehari menjelang ujian. Bukan ruang belajar, bukan pula ruang ujian. Ia berada di Mobile Clinic DT Peduli di Sukhnah Janubiyah, Yordania.
Di dalam kendaraan yang disulap menjadi ruang pelayanan kesehatan darurat itu, suasana tampak tertata. Peralatan medis tersusun rapi. Pasien datang bergantian untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
Kehadiran dr. Abdurrahman di tempat tersebut bermula dari sebuah panggilan untuk membantu warga Palestina yang tinggal di wilayah pengungsian. Di tengah persiapannya menghadapi ujian, ia dihadapkan pada pilihan: tetap fokus mempersiapkan diri atau datang memberikan pelayanan kesehatan kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi dr. Abdurrahman, ilmu kedokteran bukan sekadar tentang bekerja di rumah sakit, membuka klinik, atau mendapatkan penghasilan. Ada amanah yang menyertai ilmu tersebut, yakni menggunakannya untuk membantu sesama, terutama mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Tidak sedikit pun rasa khawatir tampak di wajahnya. Ia justru menunjukkan keyakinan bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.
“Jika mendahulukan menolong sesama, semoga Allah mudahkan ujian saya,” tutur dr. Abdurrahman kepada Koh Dennis Lim yang sedang bertugas sebagai relawan, Rabu (30/9/2026).
Kalimat itu sederhana. Namun, ada keyakinan yang dalam di baliknya: bahwa menolong orang lain tidak akan membuat seseorang kehilangan bagian dari kebaikannya sendiri.
Koh Dennis Lim pun tak henti mengucapkan, “Masya Allah.” Momen tersebut kembali mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak yang diketahui, tetapi juga tentang untuk apa ilmu itu digunakan.
Pada hari yang cerah itu, Mobile Clinic yang hadir berkat kepedulian masyarakat Indonesia tidak sekadar menghadirkan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan.
Di tengah kondisi sulit yang dihadapi warga Palestina di wilayah pengungsian, kehadiran para relawan membawa pesan bahwa masih ada kepedulian yang datang dari tempat yang jauh. Bahwa mereka tidak sendirian.
“Kami bahagia, alhamdulillah. Terima kasih banyak. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Semoga Allah memberkahi kalian,” ungkap salah seorang penerima manfaat, Na’ma Mala, setelah mendapatkan pelayanan kesehatan.
Di satu sisi, esok hari adalah ujian yang harus dihadapi dr. Abdurrahman. Namun, sehari sebelumnya, ia memilih menjalani ujian yang lain, yaitu menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk hadir dan membantu sesama.
Penulis: Faiha Athiyah Azhim
Penyunting: Astri Rahmayanti