Pesan Kebaikan Ayahanda

Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqmān [31]: 8)

 

Sepeninggal ayahanda, saya banyak merenung dan menafakuri berbagai ayat dalam al-Quran, khususnya terkait dengan hubungan anak dan orangtua. Entah mengapa saya terus mengulang untuk mengkaji surah Luqmān. Surah ini, bagi saya saat itu, terasa benar mewakili segenap ungkapan rasa yang melanda hati dan pikiran.

 

Rangkaian ayat terkait tema ini diawali dengan penjelasan tentang keutamaan al-Quran, dan diisi dengan prinsip-prinsip dasar hidup yang dinasihatkan Luqman al-Hakim kepada anaknya melalui untaian diksi berfrasa indah, yang teramat menyentuh kesadaran. Sungguh, hidup itu perlu pegangan dan pemetaan tujuan. Lalu, terngiang kembali surah al-Mujadalah ayat 11 tentang derajat orang beriman dan bertakwa dalam perspektif kejembaran wawasan dalam memaknai kehidupan.

 

Prinsip dasar Luqmān untuk setia dan loyal pada satu nilai yang menjadi tujuan segenap hasrat dalam kehidupan, yang dibatasi dimensi ruang dan waktu, inilah yang senantiasa diajarkan ayahanda sejak saya masih berusia sangat dini. Maka, mungkin saja ini alasan beliau menamai saya Tauhid. Dasar akidahlah yang membedakan hidup kita itu akan dapat dimaknai indah, atau justru hanya ruang waktu yang terisi rangkaian musibah.

 

***

 

Sejak kecil, saya diajak ayah berkelana membangun pola pikir sistematis konstruktif dengan konstruksi tauhid sebagai kerangka acuan utamanya. Betapa banyak kebesaran Allah Ta’ala beliau perlihatkan kepada saya melalui perjalanan menyusuri daerah aliran sungai Toraut di Doloduo Bolaang Mongondow sana. Betapa keindahan dan keramahan alam dan manusia, beliau perlihatkan saat saya diajaknya berjalan tiga hari tiga malam dari Sulawesi Utara menembus rimba raya tropika menuju Sulawesi Tengah, yang saat itu bahkan jalur tersebut nyaris tak terjamah.

 

Pada saat berjalan tertatih di tebing karang nan tinggi Teluk Tomini dengan latar belakang Gunung Tinombala yang tinggi menjulang, rasa kecil bahkan teramat kecil di hadapan al-Khaliq, begitu nyata terasa memenuhi rongga dada. Keangkuhan dan kesombongan sontak runtuh, segenap daya dan upaya luruh dalam tasbih memuji keagungan-Nya. Tidak hanya lutut yang bergetar karena diserang rasa takut, tetapi juga hati bergetar hebat melihat maha karya Allah Azza wa Jalla yang sedemikian dahsyat.

 

Saat bertemu dengan ketulusan manusia-manusia yang berjuang dan mengelola rahmah Ilahi sebagai amanah yang merupakan bagian dari berkah, yang tersisa hanya kagum dan hormat pada kebijakan yang mereka tunjukkan. Sungguh perjalanan demi perjalanan bersama ayahanda ke segenap antero dunia, menyadarkan saya tentang arti pentingnya menghargai sesama manusia dan makhluk-Nya, yang pada hakikatnya adalah guru bagi kita untuk mengenal Zat Yang Maha Pencipta.

 

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqmān [31]: 18)

 

Maka, kini saya menyadari sepenuhnya bahwa ayah dengan caranya, sejatinya sedang mengajari saya tentang memaknai hidup, dan memberi nilai tambah pada waktu dan ruang yang pasti akan berlalu. Kita ini makhluk ∆t, yang tidak kuasa menolak untuk terus maju dan menua serta menuju titik yang satu.

 

Maka, ayahanda dengan sedikit kata dan tak berbunga lewat kalimat berima, mengajari saya tentang konsep bijak dan bajik. Orang bijak pasti berlaku bajik, maslahat bagi umat, berkarya dan berguna bagi sesama sebagaimana hadis dari Nabi saw tentang indikator kemuliaan manusia.

 

Maka, mengisi hidup dengan karya dan kebermanfaatan adalah cara mengkonstruksi bahagia dan surga. Interaksi akan terbangun jika ada silaturahim dan sinergi yang maujud dalam aksi untuk mengoptimasi potensi. Ini adalah bentuk rasa syukur dan perwujudan dari konsep sabar yang sebenarnya. Maka, ayah mengajari saya lewat contoh dalam bentuk berkarya tanpa banyak bicara, jujur dalam bersikap, ikhlas dalam bekerja, dan itu semua dikanalisasi dalam kesatuan gerak yang dipandu niat. Bukankah niat itu adalah penegasan terhadap tujuan paling hakiki?

 

Maka, bahagia dalam definisi ayah saya yang bersahaja dan sederhana, adalah saat kita mampu mensyukuri apa pun yang kita miliki. Maka, saya pun merasakan betapa nikmatnya piknik dengan bekal seadanya di tepi batang sungai, memancing udang, dan menjelajahi gunung, danau, dan pantai serta larut dalam pesona mengingat-Nya. Sederhana!

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqmān [31]: 8)

 

***

 

Namun tentu saja, pergulatan dalam hiduplah yang sesungguhnya menjadi media ujian bagi kita. Dinamika dan volatilitas yang menjadi keniscayaan makhluk, sebagaimana tergambarkan antara lain dalam konsep termodinamika dengan entalpi, entropi, dan kalori yang senantiasa menyertai reaksi konversi energi adalah contoh indah tentang mencari model keseimbangan. Ayahanda mengajarkan dengan caranya bahwa hidup adalah persoalan keseimbangan, homeostasis bahasa ilmiahnya; dan juga keseimbangan maknawiyah itu dapat dicapai jika kita mampu menginternalisasi nilai-nilai yang termaktub dalam panduan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

 

Maka, salat dan zakat adalah persoalan kesadaran tentang keberadaan dan konsep dasar soal kepemilikan. Salat adalah jalan membangun karakter yang ditandai dengan akhlak mulia, berindikator tidak keji dan mungkar. Ada pun zakat adalah upaya konstruktif untuk membangun logika bahwa kepemilikan tidak dapat melekat pada ruang dan waktu, dan dapat dimanipulasi serta tereliminasi dari kehidupan semudah bulir air yang terevaporasi panas mentari, yang datang merambat melalui proses konveksi.

 

Maka, berbagi dan berbuat baik bagi sesama adalah jalan keselamatan yang selalu ditawarkan untuk segera dikerjakan. Dan, sampai akhir hayatnya, ayahanda selalu berusaha tuntas menolong dan membantu dengan segenap potensi yang dimilikinya agar bisa bermanfaat bagi sesama. Beliau senantiasa berusaha menjadi bagian dari solusi, meski sangat menyadari adanya keterbatasan diri. Orientasinya satu, akhirat kelak yang akan menjadi bukti. “(Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.” (QS Luqmān [31]: 4) **

 

Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes (Akademisi, peneliti, penulis buku, trainer, konsultan, dan pendiri Fakultas Kedokteran Unisba)