Mencari Cinta ke Negeri Sakura

Cinta. Inilah kata yang membuat semua orang terbang tinggi ke langit-langit keindahan. Maka, mari kita berbicara soal cinta. Akan tetapi, cinta di sini bukan tentang definisi apalagi soal teori. Saya ingin mengajak para pembaca berkelana ke salah satu negeri yang bersebelahan dengan Rusia dan Cina. Di sana, cinta terkadang tersamar dalam hal-hal biasa hingga kerap kita terlupa. Itulah negeri Sakura.

 

Ayo ke Jepang, ohaiyo ghozaimasita, selamat pagi semua. Budaya Jepang saat ini telah menjadi warisan dunia. Siapa tidak kenal dengan komik manga, action figure-nya, film anima, mobil Toyota dan Mitsubishi, motor Honda dan Suzuki, HP Sonny, semangat kaizen, dan kereta Shinkasen. Atau, coba simak ini: sushi, onigiri, ramen, bento, wagyu, wasabi, sashimi, udon, donburi, teppanyaki, sukiyaki, yakimesi, teriyaki, kaiseki, dan unagi.

Apa ciri dari semua itu? Compassionate and LOVE, isn't it? Kesungguhan, kerja keras, loyalitas, dan integritas yang jadi dasarnya. Maka, kerja adalah cinta, masak adalah cinta, dan makan adalah cinta. Jika sudah begini berarti hidup adalah cinta kan?

Saya ingin mengajak kita mengintip cintanya orang Jepang yang maujud dalam budaya kulinernya. Tahukah Anda bahwa masak bagi orang Jepang adalah ibadah? Imannya bernama kodawari, semangat untuk mencari bahan masakan terbaik agar makanan yang terhidang dapat menjadi hidangan yang terbaik pula.

Oleh karena itu, seekor tuna sirip biru (Tunnus alalunga) dari pelelangan ikan Benoa bisa dihargai 1000 dolar perkilogramnya. Mengapa? Sebab, orang Jepang sangat menghargai dan menghormati karunia Tuhan yang terlimpah dalam kesempurnaan bahan. Bagian dari daging tuna sirip biru yang paling istimewa disebut torro, atau bagian berlemak marbling alias tersebar merata, jamaknya dijumpai di daerah perut.

Akan tetapi, untuk mendapatkan kesempurnaan itu dibutuhkan pula kesempurnaan syariat untuk mendapatkan. Musim, umur, ukuran, cara penangkapan, penyimpanan, pengiriman, sampai cara pemotongan haruslah sempurna. Tanpa itu semua, daging tuna sirip biru yang telah menempuh penerbangan 6000 kilometer dari Bali sampai Narita akan menjadi tidak lagi berharga. Daging tuna terbaik itu hanya akan dapat ditangani seorang empu, juru masak sakti yang telah berlatih ribuan kali.

Dimasak apa? Mohon maaf jika salah menduga, hanya diiris tipis dengan sangat ahli dan dijadikan sushi. Mentah dan nyaris tanpa bumbu sama sekali. Dalam kebersahajaan yang sederhana inilah terletak kunci untuk dapat sepenuhnya mencecap kelezatan sejati karunia Ilahi.

Maka, tidak heran apabila dalam setiap gigitan pada sushi o’torro menguarlah rintihan zikir yang mampu menggeletarkan pikir. Setiap bulir lemak tuna itu akan mengalir terorkestrasi sempurna dalam sebuah simfoni cita rasa. Di dalamnya terkristalisasi lima tahun rahmat samudera, puluhan tahun kerja keras dan pengalaman orang-orang yang dengan sukacita mengolahnya. Maka, untuk apa shoyu? Untuk apa ratusan bumbu? Mereka hanya akan menjadi godaan dunia yang menutupi esensi cinta yang sesungguhnya.

Kita ambil contoh aijo bento yang dikhususkan untuk orang-orang yang disayang. Makanan yang satu ini dibuat customized, diisi dengan lauk-lauk yang sangat disukai si penerima. Bentuknya indah, porsinya tidak berlebih, dan komposisi gizinya seimbang. Demikian juga kaiseki, rahmat di setiap musim dioptimasi dan disyukuri dengan cara diolah sebagai makanan berkualitas fine dining. Cara mengemas dan membungkus makanannya pun sangat detail dan indah. Sungguh, suatu pertunjukkan totalitas dan loyalitas pada nilai memberikan yang terbaik. Inilah fondasi yang kuat dalam penegakan integritas nilai-nilai kemuliaan hidup.

Renungkan pula bagaimana sushi dibuat dan menjadi legenda dunia. Sushi yang menggunakan ikan segar sebenarnya termasuk budaya kuliner muda di Jepangnya. Dia masuk Jepang sekitar abad ke-19 atau tahun 1800-an berbarengan dengan ramen yang berasal dari mie li fan dataran Tiongkok. Akan tetapi, karena  mie rasanya enak dan sumber karbohidrat, dia pun menjadi kebutuhan massal.

Sejarah sushi asli berawal dari tahun 1300-an, namanya ”funa sushi”. Ikannya bukan tuna, salmon, gindara, atau ayu, akan tetapi sejenis Cyprinus carpio alias lauk emas atau ikan mas. Cara membuatnya pun ”rada ngeri-ngeri sedap”, demikian kata Almarhum Oom Sutan Batoeghana. Ikan mas Jepang dibersihkan, lalu dilumuri beras dan dimasukkan ke dalam guci, tutup rapat dan timpa dengan batu agar vakum sekali. Biarkan keluarga Sacharomyces dan teman-temannya meragikan beras dan ikannya selama .... ? Nah ini nih bagian ngeri ngeri sedapnya, dua tahun! Setelah dua tahun, ganti beras, cuci ikan, dan ragikan lagi selama dua bulan. Setelah itu keluarkan, potong tipis dan makan deh! Rasanya? Asin, asem, gurih, nano nano. Mirip dengan blue cheese-nya orang Prancis.

Sebenarnya, cara masak semacam ini ada juga di Indonesia, akan tetapi lebih manusiawi dan tidak sampai ”bulukan”. Namanya adalah ”naniura” dari Sumatra Utara. Kalau makanan yang satu ini rasanya seger-seger nikmat. Mengapa harus diragikan? Tujuannya adalah agar bisa awet dan terpreservasi sempurna sehingga rasa enaknya pun semakin mantap. Ingat saja tempe, peyeum, dan wine. Kalau yang terakhir ini hukumnya haram. ***

Penulis: Tauhid Nur Azhar