Inspirasi: Bahagia dengan Berwakaf

Berbagi memang memberikan kebahagiaan tersendiri. Islam menjadikan berbagai bentuk berbagi sebagai syariat. Salah satunya adalah wakaf. Ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ini menjadi sumber kebahagiaan bagi yang menunaikannya.

 

Wakaf Jadi Sumber Kebahagiaan

Seorang ibu paruh baya, salah seorang muwakif Wakaf Daarut Tauhiid (DT) juga merasakan wakaf sebagai sumber kabahagiaan dalam hidupnya. Pensiunan guru itu lebih memilih berwakaf dibanding membeli pakaian baru atau makanan enak.

 

Ia merasa bahagia dengan pahala yang Allah janjikan bagi orang yang gemar berwakaf. Pahala yang akan terus mengalir, walau jasad sudah tak lagi bernyawa.  Kegemarannya berwakaf ke Lembaga Wakaf DT pun akhirnya diikuti oleh anggota keluarganya, seperti suami, anak, dan cucu-cucunya yang masih kanak-kanak.

 

Suaminya bahkan seringkali mengingatkan untuk berwakaf. “Alhamdulillah, suami mendukung. Malah bapak mah senang saja. Bapak kadang yang ngingetin waktunya untuk wakaf,” tuturnya.

 

Penyakit Diangkat Karena Wakaf

 

Banyak keberkahan dari berwakaf yang telah dirasakan olehnya dan keluarga. Penyakit berat yang diderita oleh keluarganya diangkat oleh Allah SWT. Pertama, penyakit jantung yang ia derita. Bahkan, dokter yang menangani sudah menyarankan untuk melakukan cangkok jantung ke America, tapi atas izin Allah SWT, Alhamdulillah sembuh. Kedua, stroke yang juga sempat di derita oleh suaminya.

 

Ketiga, kisah anak perempuannya yang diminta dokter untuk menunda kehamilan setelah keguguran akibat Toxo. Anaknya diyakinkan oleh dokter, jika hamil bayinya akan lahir dalam kecacatan. Dirinya dan anaknya yakin bahwa sedekah itu bisa menjadi jalan keberkahan, salah satunya kesembuhan berbagai penyakit. Setiap kali berwakaf, anaknya juga menitipkan wakafnya.

 

Atas izin Allah SWT, anak perempuannya hamil, kemudian melahirkan anak dengan normal, dan anaknya sehat, tidak cacat seperti yang pernah diprediksi dokter.

 

‘Sedekah Paling Tinggi, ya Wakaf’

Caranya menyisihkan dana wakaf pun terbilang unik. Uang pensiunnya bersama suami semua diwakafkan. Hasil sewa kos-kosan yang dimilikinya pun sudah diakadkan untuk berwakaf. Ia juga menyiapkan cincin yang dimilikinya untuk diwakafkan.

 

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya, ia dapat dari berjualan madu, herbal, dan praktik bekam yang dijalaninya. “Pokoknya mah wakaf selain kebahagiaan, juga tabungan untuk akhirat. Yang paling tinggi sedekah itu, ya wakaf.  Saya mah sudah ikrar kepada Allah, mau wakaf terus hingga saya meninggal,” tegasnya.

 

Tidak hanya berwakaf, ia juga memperluas ladang amalnya dengan mengajak orang lain turut serta berwakaf. Ia meyakini ketika mengajak sebuah kebaikan, maka ia juga akan kebagian  pahalanya. “ Alhamdulillah, suka ada aja yang nitip wakaf.”ujarnya. (Agus Iskandar)