Cita-cita Sederhana Rohmat, Guru Ngaji di Pelosok Banten

Laki-laki yang akrab disapa ustaz Rohmat ini memiliki cita-cita yang tak jauh berbeda dengan guru ngaji pada umumnya. Panggilan jiwa untuk melahirkan generasi-generasi bertauhid lebih kuat dibanding harus mencari pekerjaan lain untuk memperkaya dirinya. Ya, Rohmat lebih memilih mengajar anak-anak di kampungnya meski tak sepeser pun yang ia terima dari anak-anak tersebut.

Tahun ini, genap dua puluh tahun Rohmat mengabdi dan memberikan ilmu yang dimilikinya. Dari bujangan, hingga saat ini anaknya tiga, Rohmat tetap isitiqamah bertekad untuk terus mengajar. Ia tak pernah mengeluh atau berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih layak, karena baginya, mengajari anak-anak membaca al-Quran adalah takdir terbaik yang Allah gariskan untuknya.

Berawal pada tahun 1998, saat Rohmat mengikuti diklat tatacara mengajar al-Quran, semangat mengenalkan huruf-huruf al-Quran kepada anak-anak semakin tinggi. Usai diklat, Rohmat mengajak anak-anak di kampungnya untuk belajar bersama. Dua tahun pertama, Rohmat mengajar di masjid dan dua tahun selanjutnya di rumah salah seorang warga. Setelah itu, Rohmat memutuskan untuk mengajar di rumahnya sendiri atau rumah orangtuanya.

“Alhamdulillah seueur barudak anu tos tiasa maca Quran,” katanya berbunga-bunga.

Setelah menikah, Rohmat mendapat tenaga tambahan untuk mengajar anak-anak perempuan. Jangan dibayangkan kalau rumah yang digunakan untuk tinggal dan mengajar adalah rumah permanen dengan tembok yang kokoh dan luas. Tidak! Rumah yang ditinggali Rohmat bersama istri dan ketiga anaknya itu nyaris saja ambruk.

Dicukupkan Rezeki

Selain mengajar anak-anak mengaji setiap sore dan malam, Rohmat dipercaya untuk mengajar di sekolah formal dengan honor kurang lebih 300 ribu perbulannya. Kalau secara hitungan matematika, uang sejumlah itu tidaklah cukup membiayai kebutuhannya sekeluarga. Rohmat tak mau berpangku tangan dan menyerah dengan keadaan. Beruntung, masih ada kebun yang bisa ia garap dan hasilnya digunakan untuk mencukupi  kebutuhannya sekeluarga.

Meski bukan kebun milik sendiri, Rohmat sangat bersyukur karena ia masih bisa memanfaatkan kebun tersebut. Pulang berkebun, Rohmat pun mencari kayu bakar untuk dimanfaatkan di rumahnya. Di musim kemarau, Rohmat punya aktivitas tambahan, yakni mencari atau mengambil air bersih di tempat yang cukup jauh dari rumahnya.

Hingga saat ini, Rohmat merasa heran karena selalu saja ada rezeki buat keluarga kecilnya. “Wallahualam. Saya juga bingung. Sampai sekarang bingung soalnya kalau buat makan ya ada saja,” kata laki-laki kelahiran 44 tahun silam itu.

Empat puluhan anak dari usia SD hingga SMP mendatangi Rohmat setiap sorenya. Dengan riang gembira, anak-anak itu berkerumun kemudian antre untuk tes baca al-Quran. Anak laki-laki ditangani langsung oleh Rohmat, sedangkan anak perempuan ditangani langsung oleh istrinya. Setelah tes baca al-Quran, Rohmat kemudian mengajari anak-anak tentang tauhid, adab, dan lain-lain.

Peralanan “karir” Rohmat dari tahun 1998 hingga saat ini bukanlah tanpa kerikil. Ada saja ujian yang menguji kesabarannya. Dari mulai fasilitas mengajar yang alakadarnya, pro-kontra dengan warga, hingga penolakan dari warga yang tak sejalan dengannya.

“Karena mengajarkan tauhid, banyak tantangan dari masyarakat. Misalnya memakai kalung jimat di leher,” katanya.

Rohmat menargetkan, sebelum lulus SD, anak di kampungnya sudah bisa membaca al-Quran. Maklum, katanya, kalau sudah lulus SD anak-anak sudah jarang ikut belajar al-Quran. Hanya segelintir saja ABG yang masih mau sengaja datang ke rumah Rohmat untuk mengaji.

Menyadari bahwa kehidupan adalah waktu untuk mengumpulkan bekal ke akhirat, Rohmat dan istrinya bertekad untuk terus menyebarkan manfaat. Meski serba terbatas, Rohmat yakin, Allah yang Maha Kaya lah yang mencukupi semuanya.

“Berbuat baik saja, karena sebaik baiknya manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya. (Astri Rahmayanti)