Berpikir Optimis, Adzkia Raih Juara III Lomba Tenis Meja

ADZKIA – Berada jauh dari keluarga dan jarang dikunjungi orang tua ternyata tak mengurangi semangat siswa SMA Adzkia Daarut Tauhiid untuk mengukir prestasi. Muhibbush Shabbari (kelas X MIPA), siswa SMA Adzkia asal Aceh, berhasil menjuari perlombaan Tenis Meja tingkat Kota dalam ajang ASCA (Art and Sport Competition of Auliya) 2018, di SMAIT Auliya, Bintaro.

Berpasangan dengan Akbar Ami (kelas XI MIPA), Tim Muhibb berhasil menyisihkan 6 tim dari sekolah lain se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). “Alhamdulillah berhasil menang, meski awalnya sempat tak yakin,” ujar Muhib saat ditemui di kelasnya, Selasa (6/11). Laki-laki yang lahir 15 tahun silam di Meunasah Baro, Aceh ini mengungkapkan jika awalnya ia tak mengira bisa menang dan lolos ke babak semi final, mengingat peserta dari tim lain yang berasal dari club-club tenis meja.

“Waktu awal Tim dari Adzkia main, rupanya kita beruntung, di Grup I ada empat peserta dan Grup II ada lima peserta. kita masuk Grup I, dan ketika berhasil menang, bisa langsung lolos ke semi final,” ceritanya penuh semangat. Berbeda dengan Muhib yang sempat pesimis di awal pertandingan, Akbar Ami mengaku dirinya malah optimis, jika SMA Adzkia dapat lolos ke babak final. Pikiran positif Akbar pun ternyata berbuah manis. Usai mengalahkan peserta lain, tim dari Adzkia akhirnya dapat maju ke Babak Final, dan membawa pulang juara ke III untuk kategori Ganda Putra.

“Optimis, lah. Kita sudah cukup latihan, meski waktunya hanya dua pekan. Kita juga sudah bela-belain libur Ujian Tengah Semester (UTS) ga’  ikut teman-teman lain pulang, dan hanya latihan, untuk menyelaraskan permainan tim,” katanya. Siswa yang saat ini menjabat sebagai Ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SMA Adzkia tersebut juga mengungkapkan, tak butuh waktu lama untuk bisa kompak dengan Muhib. “Awalnya mungkin agak susah, tapi karena kita banyak latihan, akhirnya bisa kolaborasi,” ungkap Akbar.

Ketika ditanya apakah ada persembahan khusus terkait Piala yang mereka dapat, Akbar hanya berkata sambil tersenyum lebar. “Pialanya khusus untuk Sekolah tercinta saja, Adzkia,” tuturnya. Sementara Muhib, saat ditanyakan apakah piala yang ia dapat ingin dipersembahkan untuk Ibunda di Aceh, hanya tersenyum kecil. “Ibu malah belum tahu, kalau tim saya menang. Kalau sudah merantau, ya sudah. Saya tidak mau berlarut-larut sedih karena ingat Ibu, dan Ibu juga disana jangan terlalu sedih karena jauh dari saya. Jangan dipikirkan. Doakan saja yang terbaik untuk saya disini,” pungkas Muhib. (HumAdz)