Bayi Musa (Bagian 2): Keluarga, Tempat Asuhan Terbaik

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: ‘Ikutilah dia,’ Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmundan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’” (QS. al-Qashash [28]: 10-12)

Sesaat ketika Siti Asiah ra melihat bayi Musa, Allah SWT menanamkan ketertarikan di dalam hatinya. Siti Asiah jatuh hati dan tidak bisa berpaling darinya. Kehadiran bayi Musa as menjadi anugerah yang tak terkira baginya. Ia sudah lama merindukan kehadiran bayi mungil di dalam pangkuannya. Karena mereka belum dikaruniai seorang anak, maka ia kondisikan suaminya agar mau mengadopsi bayi Musa menjadi anaknya. Ia sampaikan permintaan itu dengan penuh harap.

 Atas permintaan “belahan jiwanya” yang memelas penuh harap, hati Firaun luluh dan tidak sampai hati menghancurkan kegembiraan yang sedang menghampiri istrinya. Dengan serta merta mulutnya mengatakan iya, walaupun ia sedang gencar-gencarnya mengawal program pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil.

Atas persetujuan itu, Siti Asiah ra meluapkan kegembiraan dengan memerintahkan para dayangnya menyiapkan agenda pengurusan bayi. Semuanya berbagi peran memenuhi kebutuhan bayi Musa. Dari mulai pakaian hingga tempat tidur segera disiapkan. Bagi seorang istri Firaun, semua kebutuhan itu tidaklah masalah. Sampai tibalah berikutnya masa bayi Musa membutuhkan asupan makanan.

Siti Asiah berusaha memenuhi kebutuhan itu. Namun asupan air susu darinya ditolaknya, termasuk dari perempuan manapun yang ada di dalam istana. Semuanya ditolak oleh bayi Musa. Ia menangis kencang tanda membutuhkan asupan makanan (air susu) secepatnya. Seantero istana panik. Semua usahanya tidak ada yang berhasil. Didatangkanlah berbagai dukun sekaligus tawaran terbuka (sayembara) bagi yang siapa pun yang mampu menenangkannya.

Di sinilah Allah SWT berkehendak menunjukkan iradah-Nya. Allah menjauhkan bayi Musa dari asuhan perempuan lain. Sebuah kesempatan emas untuk mengumpulkan kembali bayi Musa as dengan keluarganya. Momen ini dimanfaatkan saudari tua Nabi Musa dengan menawarkan jasa menyusui sekaligus mengasuh bayi Musa, dan menjamin bahwa bayi Musa as akan tenang dan nyaman dalam asuhannya.

Olah karena berharap bayi Musa segera mendapatkan air susu, Siti Asiah ra menyetujuinya. Rumah keluarga Nabi Musa pun didatangi, berharap bayi Musa segera tenang dan mendapatkan asupan air susu yang cocok baginya. Sesampainya di sana, ibunda Nabi Musa as menyambutnya dengan senang. Ia meluapkan kegembiraan dengan bersegera menggendong dan menyusuinya. Dengan lahapnya, bayi Musa menyusu kepada ibundanya.

Siti Asiah bergembira sekali. Permasalahannya kini sudah selesai. Tinggal bagaimana keadaan ini bisa berlanjut terus. Selanjutnya ia menawari ibunda Nabi Musa tinggal di istana dengan jaminan berbagai hadiah dan fasilitas yang menawan. Ibunda Nabi Musa as sadar bahwa anak adalah amanah Allah SWT yang harus dijamu dan diperlakukan sesuai kehendak-Nya. Tentunya, ia tidak akan leluasa mendidiknya jika tinggal di istana. Beliau memberikan penawaran terbalik. Ibu Musa as menawarkan diri agar bisa mengasuh di rumahnya.

Atas segenap alasan logis dan demi menyelamatkan anak temuannya, Siti Asiah ra terbuka hatinya dan merelakan bayi Musa diasuh di rumah tersebut (rumah keluarga Nabi Musa). Ibunda Nabi Musa mensyukuri takdir ini. Ia mengagendakan asuhan terbaik untuk Nabi Musa sampai ia kembali ke istana, untuk memerankan takdir yang telah Allah tetapkan kepada negeri Mesir melalui ”tangannya” menghancurkan kezaliman. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Swadaya DT Peduli edisi Januari 2020