Bayi Musa (Bagian 1): Takdir Allah SWT Tidak Bisa Dihindari dan Ditentang

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash [28]: 4)

Hanya sedikit orang yang beriman kala itu. Kondisi masyarakat dunia terpuruk dalam kegelapan yang sangat pekat. Kezaliman di mana-mana, termasuk di Mesir. Kaum Qibthi sebagai pemenang perang berkuasa penuh tirani. Di bawah kepemimpinan Firaun, mereka membangun peradaban di atas penderitaan Bani Israil.

Sejak peristiwa rajanya yang akan menodai Siti Sarah ra, Nabi Ibrahim as menyampaikan pesan-Nya. Bahwa suatu hari nanti akan hadir keturunannya yang menghancurkan Mesir. Berita ini menjadi populer dan diwariskan dari generasi ke generasi, mengekalkan kisah permusuhan Kaum Qibthi kepada Bani Israil. Firaun berusaha menentang dan menghindari takdir Allah SWT tersebut. Bisakah ia?

Semua peluang coba ditutup. Ia kumpulkan para pembesar dan berdialog dengan mereka. Semua usulan bersatu padu mengacu kepada satu pilihan. Atas persetujuan para bangsawan, Firaun menetapkan setiap bayi laki-laki Bani Israil dikenai eksekusi mati. Keputusan yang menggemparkan. Bani Israil tidak habis pikir atas kebijakan ini. Namun titah raja tidak bisa ditolak. Mereka menerimanya walaupun terpaksa. Dibuatlah siasat untuk mengamankan para bayi laki-lakinya.

Hukuman eksekusi memunculkan kesenjangan. Jumlah laki-laki Bani Israil menjadi sedikit. Beberapa tugas terancam tidak selesai karena keterbatasan sumber daya. Mereka mencoba memaksakan untuk dilakukan oleh perempuannya. Namun, hasilnya sangat jauh berbeda. Terjadi kesenjangan kualitas.

Masyarakat Qibthi mulai resah. Eksistensi mereka sebagai efendi (majikan) mulai terancam. Mereka khawatir akan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan budaknya (Bani Israil). Lalu, mereka menyampaikan aspirasi kepada pembesarnya. Kebijakan eksekusi pun ditinjau ulang. Mereka akhirnya memutuskan eksekusi mati dilakukan setiap dua tahun sekali.

 Suatu hari Firaun bermimpi. Ia melihat api datang dari arah Baitul Maqdis. Lalu, api itu membakar setiap rumah seluruh kaum Qibthi dan membiarkan rumah kaum Bani Israil. Saat tersadar, Firaun segera mengumpulkan pembesarnya. Mereka pun sepakat untuk semakin waspada memantau eksistensi keturunan Bani Israil.

Allah Azza wa Jalla berkehendak bayi Harun as lahir di tahun free eksekusi. Sedangkan ibunda Musa hamil di tahun eksekusi. Ibunda Musa sangat khawatir. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kehamilannya. Rasa panik kian memuncak saat tiba masa kelahiran. Ia terus menenangkan dirinya dengan memohon kepada Rabb-Nya. Waktu kelahiran pun tiba. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan badan dan suara bayi. Atas kondisi demikian, Allah SWT mengilhamkan kepadanya agar menyusui terlebih dahulu sebelum ia menghanyutkannya ke sungai. Atas ilham dari Allah bahwa bayi Musa akan diselamatkan dan kembali ke pangkuannya, bahkan Allah akan mengangkat Musa as menjadi utusan-Nya.

 Penuh syukur, ibunda Musa menjalankannya. Selepas menyusui, lalu ia menghanyutkan bayi Musa seraya meminta anak perempuannya agar terus memantau sepanjang aliran sungai. Allah berkehendak aliran sungai itu menuju ke halaman istana Firaun.

Keranjang yang tiba-tiba ada menghebohkan suasana. Para dayang menyampaikannya kepada Siti Asiah ra. (istri Firaun). Ia pun meminta salah seorang membukanya. Semuanya terkejut saat mendapati seorang bayi di dalamnya. Namun, Asiah yang belum dikarunia anak tersenyum manis. Didekapnya bayi tersebut dan dibawa menemui suaminya. Walaupun tahun itu adalah tahun eksekusi, namun Siti Asiah berhasil merayu suaminya agar mengadopsi bayi Musa sebagai anaknya.

 Inilah takdir dan setiap orang wajib mengimaninya. Bahwa ketentuan Allah SWT bersifat qaduuran maqduuran (akan tetap terjadi walau sekuat tenaga menghindari), karena ketetapan Allah akan berjalan sesuai kehendak-Nya.

 Oleh karenanya manusia terbaik bukanlah yang paling kritis akal dan nalarnya, melainkan yang paling lurus menghadapkan wajahnya kepada seluruh ketentuan-Nya. Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Edu (Penulis, Trainer, dan Konsultan)