Apa itu Zakat Akhir Tahun?

Salah satu syarat wajib zakat adalah harta tersebut telah dimiliki atau telah diusahakan selama setahun oleh muzakki atau dalam bahasa Arabnya adalah telah berlalu satu haul. Zaman dulu hitungan satu haul mengacu kepada tahun Hijriah karena umat Islam terbiasa dengan perhitungan tahun hijriah. Biasanya mereka akan memilih di antara bulan-bulan Hijriah karena tidak harus di bulan Muharram, Rabi’ul Awal, Rajab, Sya’ban atau Ramadhan karena zakat wajib ditunaikan pada saat harta tersebut telah berlalu satu tahun dan sampai nishab. Artinya, kalau dimulainya Ramadhan, berarti nanti membayar zakatnya pada bulan Ramadhan, jika bulan Muharram berarti juga bulan Muharram.

Akan tetapi, di zaman modern sekarang orang lebih familiar menggunakan tahun Masehi, apalagi bagi perusahaan tahun bukunya dari 1 Januari sampai 31 Desember karena nanti berkaitan dengan pembagian dividen dan pajak. Karena agama kita memberikan kemudahan, maka sebagian ulama berpendapat tidak masalah jika dalam penghitungannya mengacu pada tahun Masehi. Artinya, ketika seseorang sudah memiliki harta lebih dari setahun dan mengikuti tahun Masehi maka dia zakat. Apalagi yang berkaitan dengan pencatatan selama setahun, misalnya kalau orang punya usaha dagang maka biasanya pencatatannya adalah mengikuti tahun Masehi.

Ada sebagian ulama yang mengatakan, ketika seorang muzakki ingin menggunakan tahun Masehi sebagai rujukan dalam penghitungan tahun, maka zakatnya adalah bukan 2,5 persen tetapi 2,575 persen. Mengapa ada tambahan angka demikian? Karena memang jumlah hari di tahun masehi lebih banyak dibanding dengan tahun hijriyah, yakni beda sepuluh atau sebelas hari. Ini akan sangat memudahkan orang yang memiliki usaha yang mengikuti tahun bukunya masehi maka di akhir tahun zakatnya dihitung kemudian dibagikan.

Mudah-mudahan hal tersebut akan menjadi keberkahan bagi usahanya dan juga memberikan kemudahan dalam menghitung berapa zakat yang haus ditunaikan. Sekali lagi, zakat akhir tahun bukan kemestian tetapi ini adalah salah satu upaya memudahkan kita untuk menghitung zakat kita karena mengikuti kebiasaan pencatatan yang ada di usaha kita sehingga kita tidak perlu dua kali menghitungnya. Dan enaknya lagi kalau untuk menghitung zakat akhir tahun maka semua biaya dikeluarkan sudah terpenuhi.

Oleh karena itu, kami menghimbau kepada muzakki yang memang terbiasa melakukan pencatatan usahanya mengikuti tahun masehi untuk menunaikan zakat usahanya tersebut di akhir tahun ini. Mudah-mudahan zakat yang ditunaikan menjadi berkah bagi usahanya, menjadi berkah bagi pemiliknya, menjadi berkah bagi seluruh yang terlibat di dalam usahanya dan mudah-mudahan kedepannya usaha tersebut senantiasa mendapatkan kemanfaatan bagi semuanya.

Bapak dan ibu bisa menitipkan zakat usaha atau perusahaan yang dimiliki ke Daarut Tauhiid (DT) Peduli sebagai salah satu lembaga amil zakat nasional yang telah dibukukan oleh pemerintah. Insya Allah hartanya akan tambah berkah dan Insya Allah zakat yang titipkan akan disalurkan kepada mereka yang berhak mendapatkannya. (Ust. Ali Nurdin Anwar/Dewan Syariah DT Peduli)