Akhirnya, Cita-citanya Berwakaf Terwujud

Air matanya tiba-tiba jatuh saat pertama melihat Daarut Tauhiid (DT). Suasana yang begitu makmur sesaat membuatnya berhenti berjalan. Keramaian sebuah pesantren yang baru pertama dikunjunginya ini memberikan secercah harapan; cita-citanya bisa terwujud melalui pesantren ini.

Dialah ibu paruh baya yang bercita-cita mewakafkan sebagian besar hartanya untuk pengembangan pesantren, kemudian bisa tinggal dan mengabdi untuk umat di pesantren itu di sisa usianya. Ia menyadari, harta tidak bisa dibawa ke akhirat. Ia ingin menghabiskan sisa usianya untuk memperbanyak amal. Pilihannya adalah wakaf dan berkhidmat.

Perjalanan Sebelum Ikrar Wakaf
Keinginannya ia utarakan sekitar 2105 lalu kepada sahabat yang sudah dianggapnya saudara, istri ustaz di tempat tinggalnya, di salah satu sudut Bekasi. Sahabatnya kemudian mengajaknya berkonsultasi sekaligus meminta saran kepada ustaz, kemana wakafnya bisa diberikan.

Ustaz menyarankan sebuah pesantren di Bogor. Ia sudah setuju untuk berwakaf dan mengungkapkan keinginannya kepada pengurus pesantren, termasuk keinginnanya berkhidmat dengan disediakan tempat sederhana sebagai tempat tinggalnya di pesantren. Ternyata, hal itu tidak mudah diwujudkan. Wakaf dibatalkan, karena pesantren tersebut belum memiliki sistem pengelolaan aset wakaf yang jelas.

Lelah mulai dirasakan. Namun, Ibu dari dua anak ini tidak menyerah. Ia manfaatkan teknologi yang ada digenggamannya. Sambil istirahat di sebuah warung, melalui situs mesin pencari, dia menemukan sebuah pesantren yang terletak di sebuah pegunungan. Dia tertarik. Segera dihubunginya pihak pengelola pesantren tersebut.

Namun, lagi-lagi dia merasa kecewa. Sebelas bulan berlalu, rumahnya yang belum terjual tak sedikitpun ditanyakan pihak pesantren. Ketidakjelasan wakafnya mulai dirasakan. Ibu yang gemar melakukan kegiatan sosial ini pun, kemudian mencari pesantren dengan sistem yang dinilainya bagus untuk mewakafkan hasil penjualan rumahnya. Ditemukanlah DT. Hatinya lansung tergerak berwakaf ke DT.


Bekasi-Bandung, Bukti Kesungguhan
Untuk yang sudah terbiasa jalan-jalan dan usianya masih muda, perjalanan Bekasi-Bandung bukanlah perjalan berat. Namun, berbeda bagi ibu yang berniat berwakaf di DT ini. Usia yang tidak muda lagi dan belum pernah datang ke DT mengharuskannya berangkat bersama suami.

Namun, di luar dugaan, suaminya mendapatkan tugas dari tempatnya bekerja, sehingga tak bisa menemani ibu itu. Keraguan pun muncul. Pertanyaan, apakah saya bisa sendirian ke Bandung, terus terngiang. Anaknya hanya bisa mengantarkannya sampai duduk di mobil travel Bekasi-Bandung.

Niat dia bulatkan. Keraguan untuk pergi sendiri terus berusaha dihilangkannya. Dia memutuskan untuk pergi. Di usia yang tidak muda lagi dan tidak pernah sekali pun datang ke DT membuatnya bingung harus kemana, setelah diturunkan di sebuah pom bensin. Ingin memesan ojek atau mobil online pun dia tidak bisa. Sempat meminta tolong kepada pemuda, petugas pom. Namun, karena sibuk dia harus menunggu.

Untungnya, ibu paruh baya yang tengah kebingungan itu dihampiri tukang ojek dan menanyakan tujuannya. Dengan nada polos, ibu itu mengaku, ingin pergi ke Pesantren Aa Gym. Dengan 35 ribu, ibu itu diantarkan sampai ke DT di Geger Kalong.

Tiba di Geger Kalong, dia merasa takjub dengan berbagai aktivitasnya. Meriah dan ramai, itu kesan pertamanya. Bayangan pesantren yang berada di gunung dan jauh dari pemukiman masyakat seketika sirna. Pahala mengalir dari kemakmuran DT pun dibayangkannya. Rasa haru memenuhi dadanya. Tanpa disadari air mata keluar dari kedua matanya.

“Ya Allah rame bener di sini, pikir saya. Netes tuh air mata saya. ‘Ya Allah mudah-mudahan Allah denger niat saya,’ saya bilang gitu ya. Biarkan saya mengabdi di sini. Apa aja saya lakuin. Sikat kamar mandi pun nggak apa-apa,” tuturnya, usai ikrar wakaf, pada Kamis (4/1), diikuti isak haru.

Ikhlas dan Tenang
Setelah disambut Humas DT dan menunggu beberapa saat, bakda kajian al-Hikam, ia dipertemukan dengan Aa Gym. Rasa haru kembali menyelusup ke dalam dirinya. Ia sampaikan niatnya untuk berwakaf, sambil hatinya terus berharap kepada Allah, agar wakafnya diterima.

Ia semakin mantap untuk berwakaf ke DT. Ikhlas dan tenang dirasakannya. Ikhlas karena dirinya benar-benar mengejar pahala dari Allah. Dan tenang sebab DT begitu tersistem pengelolaan wakafnya. Beberapa hari kemudian, ikrar wakaf pun diucapkan setelah tanda tangan serah terima rumahnya yang akan dialihkan jadi aset Wakaf DT, senilai 4 Miliar. (Agus Iskandar)