Zakat Fitrah: Ibadah Luar Biasa, Sarat Makna

Herman, S.Sos.I.

Salah satu ibadah penting di bulan Ramadan adalah menunaikan zakat fitrah. Zakat ini sering disebut pula sebagai zakat al-abdan atau zakat badan/fisik kita. Para ulama berdasarkan keterangan dan contoh dari Rasulullah saw menjelaskan besaran zakat fitrah ini hanya satu sha’ atau kalau diukur dengan timbangan sekarang sama dengan 2,216 kg karena satu sha’ sama dengan empat mud. Satu mud = 554 gram. 

Ibadah zakat ini berbeda dengan zakat harta atau zakat al-amwal. Kewajiban zakat fitrah berlaku bagi setiap kaum muslimin. Baik kaya maupun miskin, dewasa maupun anak-anak, selama mereka memiliki makanan seberat satu sha’ pada malam Idul Fitri.

Banyak hikmah dan pelajaran dari pelaksanaan ibadah zakat fitrah, pertama berkait dengan ketauhidan. Begitu besar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Dia tidak membebankan zakat yang besar. Padahal tubuh ini diberikan Allah dengan sempurna dan kemampuan yang luar biasa. Allah hanya memerintahkan agar sekali dalam setahun membayar “sewa” sebesar satu sha’.

Sehingga siapa pun diharapkan dapat menunaikannya. Bayangkan berapa biaya yang kita keluarkan setiap tahunnya untuk menjaga dan atau mengobati tubuh kita agar tetap sehat. Pastilah sangat besar dan berkali-kali lipat daripada jumlah zakat fitrah yang kita tunaikan.

Kedua, setiap kegembiraan yang kita rasakan harus diwujudkan dengan berbagi dengan sesama, terutama orang-orang yang lemah dan kekurangan di sekitar kita. Dapat menunaikan ibadah Ramadan bagi setiap muslim adalah kegembiraan sekaligus kebahagiaan.

Pada momen ini, kita diajarkan berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita dengan menunaikan ibadah zakat fitrah. Ingat! berbagi kebahagiaan menjadikan kebahagiaan yang kita rasakan akan lebih bermakna dan mendalam.

Ketiga, kita harus menyadari tidak ada ibadah kita yang sempurna. Banyak bolong di sana sininya. Untuk menutupi yang bolong-bolong ketika kita melaksanakan ibadah saum. Allah mensyariatkan ibadah zakat fitrah. Ibnu Abbas menjelaskan, Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang saum dari perbuatan dan perkataan sia-sia, serta memberi makanan bagai orang-orang miskin. (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)

Terakhir, walaupun secara fikih ada pendapat yang membolehkan zakat fitrah ini digantikan dengan uang, namun demi menjaga sunnah dan juga menjaga tujuan utama zakat fitrah, ada baiknya kita menunaikan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok.

Dari Abu Said al-Khudry, ia berkata, “Kami dulu mengeluarkan zakat fitrah pada saat Rasulullah bersama kami satu sha’ makanan atau kurma atau gandum atau anggur, atau sejenis keju. Dan aku selalu mengeluarkannya seperti itu selama aku hidup. (HR. Jamaah) [ↄ]