Ramadan sebagai Solusi Persoalan Hidup

Tidak ada hidup tanpa masalah. Bahkan lebih banyak jumlah mereka yang hidupnya dirasa terlalu banyak terbelit masalah, daripada yang tidak mendapatkan masalah. Tantangan yang mengancam kehidupan ini menyerang manusia dari segala arah. Baik dari depan, belakang, kanan, kiri, hingga atas dan bawah. Dari semua sisi kehidupan, selalu ada tantangan menghadang. Entah itu dari sisi ekonomi, sulitnya memperoleh pekerjaan, mahalnya harga bahan makanan, mahalnya biaya kesehatan, biaya pendidikan makin melangit, hingga sulitnya mendidik anak.

 

Seorang ibu yang mengalami depresi kehidupan tega membunuh putri ciliknya yang baru berusia dua tahun. Ia menenggelamkannya ke dalam tandon air di halaman rumah karena besarnya cinta kepada sang anak. Sang ibu telah merasakan beratnya kehidupan yang begitu menghimpit dada, tak ingin putri yang ia cintai itu jika dewasa merasakan pula beratnya kehidupan tersebut. Maka, berbekal keyakinan bahwa anak-anak kecil yang meninggal akan masuk surga, sang ibu pun memilih membunuh putrinya agar bisa cepat masuk surga. Beruntung aksi sang ibu berikutnya, yaitu menangkap kakaknya yang berusia enam tahun akhirnya gagal. Tidak berhasil karena sang anak berhasil lepas dari tangkapan ibunya dan lari minta tolong kepada tetangga.

 

Begitu banyak dan begitu berat masalah kehidupan ini. Namun sayangnya hanya sebagian yang berhasil bertahan dari badai kehidupan dan lulus sebagai pemenang. Banyak yang gagal dan mengalami depresi, dari tingkat rendah hingga berat. Banyak pula yang terus menerus bergulat dengan permasalahan, terpuruk dan larut dalam keluh kesah dan ketidakikhlasan menerima takdir, sementara masalah terus bergulir tanpa tahu kapan bisa diakhiri.

 

Bukti Kecintaan Allah

Wajar, jika dalam menghadapi beratnya kehidupan ini kemudian tersirat sebuah pertanyaan, “Apa sebenarnya maksud Allah dengan diciptakannya begitu banyak permasalahan hidup di dunia ini?’ Apakah Allah benci kepada para hamba-Nya?

 

Sama sekali tidak! Justru inilah salah satu bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya, yaitu memberinya ujian dan tantangan. Mengapa? Karena sebagian besar manusia sering lupa ketika mendapatkan nikmat. Baru ingat untuk kembali kepada Tuhannya jika sedang terpuruk dalam jurang permasalahan. Bukankah wajar, jika terhadap orang yang seperti ini maka Allah memberinya permasalahan hidup agar ia mau kembali kepada-Nya lagi?

 

Ada kalanya Allah juga memberikan ujian kehidupan sebagai peringatan akan kesalahan yang dilakukan hamba-Nya. Bukankah ini berarti bukti cinta juga? Jika Allah tidak cinta, tentulah dibiarkan saja hamba-hamba-Nya berkubang dalam kemaksiatan yang mereka lakukan. Ibarat seorang anak yang terlalu banyak bermain games sehingga lupa waktu untuk salat dan belajar, maka ibunya pun menyita games si anak. Ini membuat si anak sedih dan kehilangan kebahagiaannya untuk sementara. Tetapi karena tak ada lagi godaan games, si anak menjadi lebih mudah untuk diajak salat dan belajar.

 

Kemungkinan berikutnya adalah Allah berikan ujian permasalahan hidup ini untuk menghapus dosa-dosa manusia. Subhanallah! Siapa pun tentu lebih suka dicuci dosanya di dunia daripada harus dicuci di neraka. Karena perhitungan kehidupan dunia yang beratus-ratus tahun ini sebenarnya barulah sama dengan hitungan sesore saja dalam kehidupan akhirat kelak. Maka, jika Allah mencintai hamba-Nya, bisa jadi dibuatnya kehidupan si hamba menjadi berat di dunia agar menjadi penghapus dosa bagi mereka.

 

Begitulah cara pandang positif orang beriman terhadap beratnya permasalahan hidup yang ia hadapi, sehingga mereka tak lagi menyesali kehidupan ini. Selanjutnya tetap memiliki energi positif untuk bersabar dan berusaha keras mencari solusi permasalahan, tanpa mempertanyakan atau bahkan menyalahkan Allah yang mendatangkan masalah tersebut.

 

Allah Ciptakan Masalah dan Solusinya

Hebatnya lagi ternyata setelah Allah tunjukkan cinta-Nya kepada kita dalam bentuk permasalahan hidup, Ia pun sediakan alternatif penyelesaiannya. Ia berjanji memberikan solusi permasalahan jika manusia mau mengikuti rangkaian prosedur dan persyaratkannya.Salah satu caranya adalah dengan berdoa. Allah menjanjikan bahwa akan mengabulkan doa orang-orang beriman jika mereka telah melakukan beberapa syarat, antara lain:

 

Pertama, bersungguh-sungguh dalam berdoa. Mempersiapkan waktu khusus untuk berdoa adalah salah satu tanda bahwa seseorang memiliki kesungguhan dalam berdoa. Tidak berdoa hanya ketika ingat saja, semata mengisi waktu luang, atau sekadar karena kebiasaan berdoa usai salat, sehingga bibir dengan fasih bahkan tanpa harus dipikir lagi meluncurkan kalimat-kalimat doa tanpa diikuti gerakan hati, karena ternyata hatinya justru sedang melayang memikirkan hal lain.

 

Kedua, berdoa dengan penuh harap. Jika datang seorang pengemis dengan badan tegap, tangan menengadahkan kaleng tempat uang, lantas menatap kita dengan wajah kosong dan cuek tanpa mengucap sepatah kata pun, tentu tak bisa membangkitkan empati kita. Bandingkan jika yang datang adalah seorang pengemis tua yang sudah bungkuk, namun masih harus menggendong anak berusia setahun yang nampak tertidur kelelahan digendongannya. Jalannya pun sulit dan terseok-seok, tangannya harus meraba-raba sambil berjalan karena matanya yang sudah rabun, sementara dengan wajah bermandi peluh ia berkata penuh harap, “Tolong pak, saya dan cucu saya belum makan. Cucu saya sakit dan badannya panas. Saya sudah tak bisa kerja apa-apa lagi selain minta-minta.”

 

Begitu juga halnya dengan Allah, akan senang jika hamba-Nya datang dengan pengharapan penuh. Tidak lagi bisa berharap kepada siapapun kecuali Allah. Ketika kita menengadahkan tangan dan berkata, “Tak ada yang bisa menyelesaikan masalahku kecuali Engkau semata, ya Allah. Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu. Engkaulah satu-satunya tempat bergantung. Bukan kepada manusia, orangtua, suami, atasan, atau siapapun.” Lantas ia berdoa berulang-ulang, terus menerus, tanpa henti, karena begitu berharapnya akan pertolongan Allah.

 

Ketiga, menjaga makanan dan pakaiannya senantiasa halal dan diridhai Allah. Bukankah ketika kita mengharapkan pertolongan seseorang, maka kita akan berusaha tampil sesuai dengan keinginan orang tersebut? Apalagi berdoa dihadapan Allah, wajiblah bagi hamba untuk tampil membawakan diri sesuai dengan keinginan Allah. Apalagi karena semua yang diingini dan diridhai Allah tersebut ternyata seratus persen baik untuk kemaslahatan hamba itu sendiri. Maka tak ada alasan untuk menolak hal itu.

 

Keempat, Allah telah sediakan begitu banyak waktu yang tepat untuk berdoa karena pada waktu-waktu tersebut doa seseorang akan menjadi mudah diijabah oleh Allah. Contoh, waktu-waktu yang diijabah doa seseorang antara lain saat sujud, saat berbuka puasa, saat usai berwudhu, saat adzan, antara adzan dan iqamah, tengah malam, sepertiga malam terakhir, malam qadar, dan masih banyak lagi. Salah satu dari waktu diijabahnya doa adalah pada bulan Ramadan. Keutamaan bulan Ramadan ini semakin berlipat lagi dengan melihat kenyataan bahwa semua waktu diijabah doa yang telah dijanjikan Allah sebelumnya, semua ada dalam bulan Ramadan. Maka, betapa mulianya bulan Ramadan!

 

Momen Menemukan Solusi Kehidupan

Kemuliaan bulan Ramadan inilah yang akan kita bahas kali ini, sebagai salah satu waktu utama yang dijanjikan Allah sebagai waktu diijabahnya doa seorang hamba. Maka bagi siapa yang memiliki permasalahan hidup yang berat, maka berbahagialah ketika bertemu Ramadan karena mendapatkan kesempatan dari Allah untuk bisa menemukan solusi kehidupan.

 

Apalagi dikuatkan juga oleh janji Allah yang lain dalam quran surah ath-Thalaq [65] ayat 2, “... Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.”

 

Sementara itu, Ramadan adalah ‘bengkel reparasi’ bagi manusia, sehingga diharapkan setelah berpuasa di bulan Ramadan, mereka akan memperoleh ketakwaan. Itu berarti, Allah menyediakan Ramadan bagi manusia sebagai saat tepat untuk mendapatkan solusi kehidupan. Itulah janji Allah, dan Ia adalah Rabb yang tak pernah ingkar janji. Maka, berbahagialan mereka yang sempat bertemu Ramadan, karena diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan solusi permasalahan hidup.

 

Yaa... Allah, Engkaulah yang memiliki segalanya, anugerahkanlah kepada kami kecintaan terhadap bulan suci Ramadan sehingga kami bisa beramal saleh yang terbaik dengan ikhlas di dalamnya. Berikan kepada kami rahmat, maghfirah dan hidayah-Mu. Aamiin.

 

Penulis: Teh Ninih Muthmainnah