Ramadan, Saatnya “Berpesta”!

Salah satu fitrah manusia adalah memiliki kesenangan terhadap sesuatu. Jika rasa senangnya itu sudah mendominasi, pikiran dan perasaannya akan selalu tertuju pada yang disenanginya itu. Waktunya selalu dihabiskan memikirkan hal-hal yang disenanginya. Sebut saja sepak bola. Olahraga menendang bola dengan kaki ini digandrungi seluruh masyarakat dari berbagai lapisan, mulai balita hingga tua renta.

 

Ketika ada even sepakbola, masyarakat dengan gembira menyambutnya. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam demi manyaksikan langsung tim kesayangannya berlaga. Jika tidak sempat menyaksikan langsung, mereka rela menonton hingga larut malam, atau menjelang pagi, atau mendatangi tempat-tempat yang memfasilitasi aktivitas “nonton bareng”.

 

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran masyarakat, tidak hanya di Indonesia tapi juga di belahan bumi lainnya saat menyambut sesuatu yang disenangi. Nah, Ramadan kini kembali hadir menyapa. Apakah perasaan kita sama ketika menyambut sesuatu yang sangat disenangi? Sungguh beruntung jika perasaan kita saat menyambut Ramadan lebih gembira dibanding menyambut pagelaran apa pun.

 

“Pesta” Baru Saja Dimulai

Bersyukurlah, karena kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali mengecap manisnya Ramadan. Lihatlah, begitu banyak orang-orang di sekitar kita yang Allah SWT takdirkan tidak dapat ikut merasakan manis dan lezatnya Ramadan. Kesempatan baik ini, tidaklah untuk disia-siakan, tapi justru dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak ada jaminan tahun depan kita berjumpa lagi dengan Ramadan.

 

Saat inilah waktunya kita “berpesta” dan “pesta” itu sebenarnya baru saja dimulai. Jika sebelum Ramadan kita masih tidak bisa saum, inilah saatnya memaksimalkan saum. Jika sebelum Ramadan kita masih “mempermainkan” salat wajib, sekaranglah saatnya kita benar-benar melaksanakan salat. Tidak hanya salat wajib, melainkan juga salat sunnah.

 

Jika sebelum Ramadan kita masih hitung-hitungan untuk bersedekah, sekaranglah saatnya mengeluarkan potensi yang dimiliki untuk kebahagiaan saudara kita yang lainnya. Jika sebelumnya kita masih enggan berbuat kebajikan, sekaranglah saatnya meningkatkan kebaikan. Saatnya kita “berpesta” dengan memaksimalkan ibadah. Salat, zakat, sedekah, itikaf, membaca dan mempelajari al-Quran, dan berbagai ibadah lainnya.

 

Perkembangan teknologi saat ini telah banyak berperan dalam kegiatan apa pun. Termasuk mempermudah aktivitas seseorang untuk berzakat, infak, dan sedekah tanpa mengurangi esensi dari ibadah tersebut. Kita manfaatkan perkembangan teknologi dengan sebaik-baiknya hanya semata-mata untuk mendapatkan rida Allah.

 

Dengan berbagai kemudahan tersebut, seharusnya tidak membuat kita lalai. Tetapi menjadi pemicu untuk selalu melakukan yang terbaik. Termasuk dalam beribadah, kemajuan teknologi saat ini harusnya membuat kita semakin giat beribadah dan bertambah ilmu agamanya.

 

Ikhlas, Kunci Setiap Ibadah

Ibadah yang dilaksanakan saat Ramadan akan berbuah pahala yang besar. Walau demikian, berbagai macam ibadah yang kita lakukan sama sekali tidak ada artinya jika tidak diiringi dengan keikhlasan. Hal itu sama saja seperti manusia yang tidak memiliki ruh. Selain lelah, ibadah yang tidak diiringi dengan keikhlasan tidak diterima oleh Allah SWT.

 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Sahih Bukhari: 2840 dan Sahih Muslim: 1153), Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berpuasa sehari fii sabiilillaah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”

 

Para ulama menjelaskan termasuk cakupan makna fii sabiilillaah dalam hadis tersebut adalah; “ikhlas karena Allah semata”. Dalam riwayat yang lain, Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keyakinan (akan pahalanya) dan niat yang ikhlas dalam meraih ganjaran dari Allah, maka pasti dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” (Sahih Bukhari: 38, Sahih Muslim: 760)

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin menjelaskan tentang seseorang yang beribadah kepada Allah, tetapi ada tujuan lain. Beliau membagi menjadi tiga golongan.

 

Pertama: Seseorang bermaksud taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan ini membatalkan amalnya dan termasuk syirik, berdasarkan sabda Rasulullah, Allah berfirman, “Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya. (HR.  Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)

 

Kedua: Ibadahnya dimaksudkan mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub kepada Allah. Amal seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud [11]: 15-16)

 

Perbedaan antara golongan kedua dan pertama ialah, jika golongan pertama bermaksud agar mendapat sanjungan dari ibadahnya kepada Allah; sedangkan golongan kedua tidak bermaksud agar dia disanjung sebagai ahli ibadah kepada Allah, dan dia tidak ada kepentingan dengan sanjungan manusia karena perbuatannya.

 

Ketiga: Seseorang yang dalam ibadahnya bertujuan taqarrub kepada Allah sekaligus untuk tujuan duniawi yang akan diperoleh. Misalnya, puasa dengan tujuan diet dan taqarrub kepada Allah atau menunaikan ibadah haji untuk melihat tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pelaksaan ibadah haji dan melihat para jemaah haji.

 

Semua ini dapat mengurangi balasan keikhlasan. Jika yang lebih banyak adalah niat ibadahnya, maka akan luput baginya ganjaran yang sempurna. Tetapi hal itu tidak menyeret pada dosa, seperti firman Allah tentang jemaah haji disebutkan dalam Kitab-Nya, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Rabb-mu. (QS. al-Baqarah [2]: 198)

 

“Pesta” ini baru saja dimulai. Saatnya kita berlomba-lomba mempersembahkan yang terbaik untuk Sang Pencipta. Salat lebih dari biasanya, membaca al-Quran lebih dari biasanya, bersedekah lebih dari biasanya, dan menumbuhkan rasa kepedulian lebih dari biasanya.

 

Tidak lupa untuk selalu memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang kita perbuat. Karena selain berlimpah pahala, saat Ramadan, Allah juga mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu.

 

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena keimanan dan mengharapkan keridaan Allah, akan diampuni semua dosa-Nya yang terdahulu." (HR. Ahmad dan ash-Habus Sunan)

 

Semoga Allah SWT menerima ibadah kita dan Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadan berikutnya. Aamiin. (Astri Rahmayanti)