Mengalirkan Kebaikan Zakat

Syahdan. Menjelang akhir hidupnya, Umar bin Abdul `Aziz (717-720 M) menerima sepucuk surat dari Gubernur Baghdad, Yazid bin Abdurahman. Khalifah dari Bani Umayyah itu menerima laporan dana zakat di Baitul Mal melimpah ruah. Sebabnya, tidak ada yang mau menerima dana zakat. Mereka menolak karena hidupnya sudah berkecukupan. Yazid pun menjadi bingung dan meminta saran kepada khalifah yang terkenal adil dan bijaksana tersebut.

 

Umar lalu memerintahkan agar dana zakat diberikan kepada orang yang biasa menerima upah. Namun, Yazid menjawab, ”Sudah diberikan tapi dana zakat masih berlimpah di Baitul Mal.” Umar kembali memerintahkan supaya dana zakat diberikan kepada orang yang berutang dan tidak boros. Yazid berkata, ”Kami sudah bayarkan utang-utang mereka, tapi dana zakat masih berlimpah.”

 

Tidak kehabisan akal, Umar memberi perintah untuk menikahkan orang yang lajang dan membayarkan maharnya dengan dana zakat di Baitul Mal. Jawaban serupa kembali disampaikan Yazid, hal tersebut sudah dilakukan namun dana zakat di Baitul Mal masih menggunung. Akhirnya, khalifah memerintahkan agar dana zakat diberikan kepada wirausaha yang membutuhkan modal, lalu memberikan modal tersebut tanpa harus dikembalikan.

 

***

 

Merenungi sepenggal kisahUmar bin Abdul `Aziz ini, memang membuat siapa saja berdecak kagum. Khalifah legendaris tersebut mampu menjalankan amanah kepemimpinannya yang hanya sekitar dua setengah tahun dengan gemilang. Kemakmuranyang jadi acuan berhasil atau tidaknya seorang pemimpin, berhasil ia buktikan.

 

Zakat adalah instrumen kunci bagi Umar bin Abdul `Aziz mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tidak hanya memangkas jumlah mustahik atau kaum miskin hingga mendekati nol, Umar juga berhasil melakukan ‘revolusi mental’. Yakni mengubah mindset (pola pikir) rakyatnya agar tidak merasa nyaman ketika diberi. Tapi sebaliknya, mereka dimotivasi untuk senang memberi. Sehingga jika saat ini mereka adalah mustahik (penerima zakat), dengan zakat yang diberikan akan mengantarkan mereka menjadi muzaki (pemberi zakat).

 

Rakyat pada masa Umar bin Abdul `Aziz sangat memahami kemuliaan seseorang itu terletak pada sikap dan kebiasan senang memberi/bersedekah, terutama zakat yang merupakan kewajiban dalam Islam (rukun Islam ke-4). Ada rasa malu jika selalu diberi atau menerima pemberian dari orang lain, baik itu berupa sedekah maupun zakat.

 

Hal ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah saw ketika berada di atas mimbar, beliau menuturkan tentang sedekah dan menjaga diri dari meminta. Beliau bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah yang memberi dan yang di bawah adalah yang meminta.”

 

Walhasil, tidak mengherankan ketika kepemimpinan Umar bin Abdul `Aziz, banyak rakyatnya yang enggan menerima zakat. Selain karena kemakmuran yang dihasilkan dari kebaikan zakat, rakyat pada masa Khalifah Umar juga menjadi contoh nyata jika zakat dapat mengentaskan kemiskinan hingga ke akar-akarnya. Bahkan setiap orang pada masa itu, berlomba-lomba memantaskan diri agar menjadi muzaki.

 

Kebaikan dalam Zakat

Selalu ada kebaikan dalam zakat. Zakat yang ditunaikan tak hanya mengalirkan kebaikan dan pahala bagi mereka yang mengeluarkannya, tapi juga menebar manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Apalagi, jika zakat dilakukan tidak sendirian, melainkan bersama-sama meluaskan kebaikan zakat. Tentu kebaikan yang ditimbulkan pun akan berdampak signifikan.

 

Mengacu pada data hasil penelitian BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), Institut Pertanian Bogor(IPB) dan Islamic Development Bank (IDB) pada 2016 lalu, potensi zakat di Indonesia sungguh spektakuler. Jika dana zakat di Indonesia optimal dihimpun, maka dana zakat yang terkumpul dapat mencapai Rp217 triliun per tahunnya. Bayangkan, dana zakat tersebut setara dengan 3,4 persen gross domestic product (GDP) Indonesia! Permasalahan akut kemiskinan di Indonesia yang sulit dientaskan karena minimnya dana, dapat dengan mudah terselesaikan.

 

Tapi, realita berkata lain. Hanya sekitar 10% dana zakat yang bisa terhimpun. Ini artinya, selain belum maksimalnya negara atau lembaga amil zakat dalam menghimpun dana zakat dari masyarakat, kesadaran umat untuk berzakat boleh dikatakan masih rendah. Zakat dianggap hanya bagi kalangan hartawan, dan mengabaikan fakta jika nisab (batas minimal pendapatan wajib zakat)zakat sesungguhnya sudah wajib dikeluarkan bagi kalangan menengah.

 

Ambil contoh, nisab zakat penghasilan/profesi yang diqiyaskan dengan nisab pada zakat pertanian, yakni lima wasaq atau 653 kg beras (sekitar Rp.6,53 juta, jika harga beras per kilo gramnya Rp.10 ribu).Mengacu pada nilai nisab tersebut, menurut Oni Sahroni, Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, seorang pekerja profesional yang penghasilan per bulan telah mencapai Rp6,53 juta atau lebih, wajib baginya untuk mengeluarkan zakat penghasilan sebesar 2,5 persen dari total penghasilan setiap bulan.

 

Nah, rata-rata penghasilan pekerja profesional dari kalangan menengah di Indonesia saat ini sudah mencapai nisab zakat penghasilan, yaitu Rp6,53 juta. Yang menandakan, asumsi bahwa zakat hanya wajib bagi kalangan hartawan tidaklah tepat. Jadi, tidak ada alasan bagi kalangan menengah untuk mengabaikan kewajiban mengeluarkan zakat, jika mengacu pada penghasilan mereka yang ternyata sudah tergolong sebagai wajib zakat.

 

Apalagi, zakat punya banyak kebaikan yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya ampuh menghapus kemiskinan secara sistematis (fungsi sosial) dan menyucikan hati muzaki beserta hartanya (QS. at-Taubah [9]: 103), zakat juga segudang manfaat, di antaranya:

 

  • Terbukanya pintu kasih sayang Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah tertolak suatu qadla' (keputusan jalan hidup manusia) kecuali dengan doa, dan tidaklah bertambah umur manusia kecuali dengan menebar kebaikan.” Hadis ini menyiratkan kekuatan doa. Pun halnya dengan doa fakir miskin yang terbantu kehidupannya karena zakat yang ia terima. Doa tersebut insya Allah mampu mengetuk pintu Arsy, dan membuat kasih sayang Allah tercurah kepada muzaki yang telah menunaikan zakatnya. Hidupnya pun akan semakin berkah dan sakinah.

 

  • Amalan mulia yang disunahkan Rasulullah.

Zakat termasuk amalan mulia di sisi Allah karena sarat kebaikan di dalamnya. Sebagaimana disampaikan Rasulullah, “Amal yang paling mulia adalah idkholus surur (menebar kebahagiaan) kepada mukmin dengan menutupi aurat mereka (memberi sandang pakaian), atau menghilangkan rasa lapar mereka, atau menunaikan kebutuhan mereka.”Zakat tergolong sebagai amal mulia karena dampaknya yang membahagiakan fakir miskin dan mengangkat mereka dari jurang kemiskinan. 

 

  • Penghapus sifat bakhil atau kikir terhadap harta.

Cinta harta yang berlebihan sungguh sangat merusak. Apalagi kecenderungan nafsu terhadap harta yang tidak pernah puas. Jika terus dituruti, bisa membuat seseorang menjadi serakah. Untuk itu, membiasakan diri untuk berzakat mampu menghilangkan sifat bakhil pada manusia, dan menjauhkan dari karakter serakah yang sangat dibenci Allah SWT(QS. at-Takatsur [102]: 1).

 

  • Solusi pencegah kejahatan.

Salah satu sebab terjadinya kejahatan adalah faktor himpitan ekonomi. Orang yang hidup dalam jerat kemiskinan, sangat rentan melakukan tindakan kriminal untuk bertahan hidup, baik itu mencuri atau merampok harta orang lain. Di sini, zakat memainkan perannya sebagai pencegah (preventif) agar kejahatan tidak terjadi karena alasan ekonomi.

 

Begitu luar biasanya kebaikan zakat, maka sangat merugi jika diabaikan. Setiap muslim hendaknya turut serta dalam amal kebaikan tersebut. Bagi yang diamanahkan harta berlebih, wajib baginya tidak menunda-menunda kewajiban itu. Bagi yang diberi kemampuan menghimpun dan mengelola zakat, wajib baginya untuk adil dan profesional dalam pekerjaannya, sehingga kebaikan dalam zakat akan mengalir ke setiap sudut kehidupan. Wallahu a'la wa a'lam. (Suhendri Cahya Purnama)