Hidup Serba Sulit, Tati tak Mampu Biayai Pengobatan Anaknya

Perkenalkan! Perempuan paruh baya ini adalah Tati Sumiati. Saat ini, Tati bersama keluarganya tinggal Dusun Pasir Nangka RT 002 RW 005, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Sumedang.

Di rumah sangat sederhana ini, Tati tinggal bersama kelima anaknya. Dengan susah payah, Tati harus berjuang menjadi orangtua tunggal bagi kelima anaknya. Hal ini harus dijalaninya seorang diri setelah suami yang dicintainya meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Sejak ditinggal suaminya, kehidupan Tati terasa semakin getir. Saat ada suaminya, Tati masih bisa membantu mencari nafkah meski hanya dengan berdagang gorengan. Tapi kini, karena ketiadaan modal, Tati tak bisa berbuat banyak, apalagi dua dari kelima anaknya bisu dan tuli.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Tati dan kelima anaknya mengandalkan bantuan dari orang lain, terutama para tetangganya. Ada yang membawakan nasi, lauk pauk, makanan ringan, bahkan uang. Para tetangganya merasa iba melihat Tati dan kelima anaknya hidup serba kekurangan.

“Kadang ada yang ngasih nasi bungkus, makanan, atau uang,” katanya pada Kamis (7/11).

Wiwin (32) anak pertama Tati tak bisa banyak membantu. Kondisinya yang tuli dan bisu sejak lahir membuat Wiwin tak bisa berbuat banyak, apalagi membantu perekonomian ibunya. Begitu pun dengan anak bungsunya, Rahma (9).

Selain kondisi kedua anaknya yang bisu dan tuli, Tati juga diuji dengan kondisi Rahma yang tak punya anus. Sebagai gantinya, Rahma dibuatkan saluran pembuangan dari perutnya. Karena kondisi anak bungsunya demikian, Tati harus menyiapkan plastik khusus setiap saat untuk membungkus saluran pembuangan kotoran Rahma. Sayangnya, ketiadaan biaya membuat Tati terpaksa menggunakan plastik biasa dari warung.

Saat tim Daarut Tauhiid (DT) Peduli berkunjung, Tati merasa sedikit lega karena DT Peduli memberikan alat bantu dengar untuk Wiwin. Tati pun ikut bahagia saat anak sulungnya menangis bahagia karena bisa mendengar setelah memakai alat bantu dengar.

“Alhamdulillah, melalui program difabel berupa pemberian alat bantu dengar, Wiwin anak pertama ibu Tati bisa mendengar,” ujar Koordinator Relawan DT Peduli, Saprudin.

Meskipun Tati bahagia karena anak sulungnya bisa mendengar, Tati masih merasa sedih karena kondisi anak bungsunya. Sebelumnya, Rahma dibantu para tetangganya dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi. Sayangnya, karena ketiadaan biaya hidup membuat Tati terpaksa menghentikan pengobatannya.

“Walaupun ada BPJS, ibu Tati tidak punya biaya hidup. Jadi ia terpaksa menghentikan pengobatan,” jelas Saprudin.

Kesedihan Tati pun kian bertambah karena selain bisu, tuli, dan tak punya anus, putri bungsunya ini juga mengalami bocor jantung dan harus segera dioperasi. Saat ini, Tati hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan para dermawan untuk membantu kesembuhan Rahma. (Rie)