Berkurban itu Berbagi Kebahagiaan

Masih ingatkah cerita Mak Yati, seorang pemulung dari Jakarta yang menabung tiga tahun untuk berkurban dua ekor kambing? Atau Bambang, penarik becak asal Pasuruan yang menabung lebih dari lima tahun untuk berkurban?

 

Mereka hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang memiliki tekad kuat untuk berkurban. Dengan segala keterbatasan materi yang dimiliki, mereka menjadikan tekad dan niat karena Allah semata sebagai kelebihannya.

 

Secara materi dan perhitungan duniawi, bisa dikatakan mereka adalah orang yang kurang mampu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, mereka harus menguras keringat berlebih. Apalagi jika ingin berkurban. Perlu waktu yang tidak sedikit agar impian untuk berkurban dapat terwujud.

 

Ada pun hikmah dari ibadah kurban, salah satunya mengajarkan kita untuk memotivasi diri agar memiliki tekad kuat dan mau bekerja keras. Dari kedua cerita tersebut (Mak Yati dan Bambang), dapat kita telaah hikmahnya bahwa dengan niat dan kerja keras, mereka akhirnya bisa berkurban.

 

Kedua cerita itu juga memotivasi kita yang berniat berkurban tapi belum siap biayanya, agar selalu sabar dan berikhtiar dengan jalan yang Allah sukai. Jika niat sudah mantap dan biaya sudah tersedia, maka alangkah baiknya tidak menunda-nunda untuk berkurban.

 

Kita ketahui, Nabi Muhammad saw mengecam umatnya yang mampu berkurban, tetapi enggan menunaikannya. “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

 

Kurban yang Membahagiakan

Hari Raya Idul Adha atau sering juga disebut dengan Hari Raya Kurban, merupakan hari yang dinanti-nanti sebagian besar kaum muslimin di dunia. Bagi yang mampu dan memiliki kesempatan, akan memilih berhaji. Namun bagi yang belum sempat berhaji, mereka merayakannya bersama keluarga atau di perantauan masing-masing.

 

Bagi yang jarang mengonsumsi daging, momen ini merupakan saat yang membahagiakan. Mereka dapat mengonsumsi makanan yang terbilang makanan mahal itu. Karena selain Idul Adha, biasanya untuk dapat menikmati daging, mereka harus menunggu saat-saat tertentu seperti pesta, syukuran, dan lain-lain.

 

Itu sebabnya, ibadah kurban mengandung nilai sosial yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama. Dengan berkurban, kita dapat saling berbagi kebahagiaan, mengasah kepekaan, dan menghidupkan hati nurani.

 

“…Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan utangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’ktikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan…” (HR. Thabrani)

 

Masya Allah! Ternyata amalan yang dianggap sepele ini, memiliki nilai yang lebih baik daripada berdiam diri di masjid selama satu bulan untuk beribadah (i’tikaf) di Masjid Nabawi. Menolong orang lain dengan menghilangkan rasa laparnya dan mengatasi kesulitannya, merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah, dan amalan tersebut akan memberikan rasa kebahagiaan kepada para pelaku dan penerimanya.

 

Tanpa disadari, dengan berkurban, begitu banyak orang yang dapat merasakan kebahagiaan. Mulai dari para peternak hewan kurban, penjual hewan kurban, para panitia kurban, orang yang berkurban, hingga para penerima daging kurban. Kebahagiaan semakin terasa jika daging kurban sampai tepat sasaran seperti fakir miskin, orang yang merantau ke daerah lain, anak kos yang sangat jarang memakan daging, korban perang, korban bencana alam, dan lain-lain.

 

Sayangnya, penyebaran daging kurban di berbagai daerah selalu tidak merata. Seringkali terjadi penumpukan daging kurban di salah satu daerah dan ketiadaan daging kurban di daerah lainnya. Kondisi ekonomi suatu daerah menjadi faktor utamanya. Dengan demikian, kebahagiaan Idul Adha tidak dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.

 

Berkurban Selagi Ada Kesempatan

Jika Mak Yati dan Bambang harus menunggu selama bertahun-tahun untuk berkurban, maka jika kita telah diberikan kesempatan berupa harta yang cukup dan kemampuan, maka segerakanlah berkurban. Dengan berkurban, kita tidak hanya merasakan kebahagiaan, tapi juga memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

 

Menyembelih kurban termasuk amal salih yang paling utama. ‘Aisyah menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (kurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

 

Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai dengan harga hewan kurban, atau bahkan sedekah yang lebih banyak daripada nilai hewan kurban. Karena maksud terpenting dalam berkurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, menyembelih kurban lebih menampakkan syi’ar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (Lihat Sahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

 

Di zaman serba modern ini, berbagai fasilitas penunjang kehidupan tersedia dengan sangat lengkap dan mudah, termasuk untuk berkurban. Saat ini, berbagai kemudahan berkurban tersedia di tengah-tengah masyarakat. Dari mulai tersedianya pasar hewan kurban hingga kurban online yang hanya dengan sentuhan ujung jari, semua urusan beres.  

 

Jika tidak sempat membeli hewan kurban, memotong, dan menyalurkannya sendiri, kaum muslimin juga dapat mempercayakan kurbannya ke lembaga-lembaga tepercaya. Saat ini, banyak sekali lembaga yang menyediakan fasilitas untuk berkurban dengan mudah. Salah satunya Daarut Tauhiid (DT) Peduli.

 

DT Peduli merupakan salah satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun dalam menghimpun dan mengelola dana zakat, infak, sedekah, termasuk juga dana kurban. Menjelang Hari Raya Idul Adha, DT Peduli memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan kepada masyarakat untuk berkurban.

 

Berbagai jenis hewan kurban pun tersedia, dari mulai kambing dengan berbagai tipe, sapi, hingga unta. Adapun penyebarannya pada tahun ini, lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya, yakni dalam dan luar negeri. Untuk di dalam negeri, DT Peduli bekerja sama dengan berbagai pihak di pelosok negeri dalam menyebarkan hewan kurban. Adapun penyebarannya di Indonesia, dibagi menjadi tiga zona yakni Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur. Secara internasional, penyebaran hewan kurban juga meliputi beberapa wilayah yakni Palestina, Somalia, Rohingya, dan Suriah. (Astri Rahmayanti)