Anak Laki-laki ataukah Perempuan?

Aa Gym

Milik Allah-lah seluruh kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menjadikan mandul kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. asy-Syûrâ [43]: 49-50).

 

Janganlah dilupakan bahwa anak adalah ciptaan dan milik Allah SWT. Bukan milik apalagi ciptaan kita. Menggambar anak saja kita tak sanggup. Kita hanya perantara dan yang diamanahi. Nah, karena kita tidak mampu menciptakan anak, lalu bagaimana mungkin kita bisa menentukan anak kita laki-laki atau perempuan?

 

Bukan kekuasaan kita menciptakan anak laki-laki atau perempuan. Itu adalah kewenangan-Nya. Al-Wahhâb, Yang Mahapemberi. Karena itu, jika saudara menginginkan anak laki-laki atau perempuan, maka memohonlah kepada-Nya.

 

Begitu juga bagi saudara-saudara yang mandul. Kemandulan itu dari Allah SWT. Ridhalah atas kehendak-Nya. Tidak ada perbuatan Allah yang salah atau keliru. Di balik kemandulan tersebut pasti ada kebaikan.

 

Misalkan, berapa banyak orang yang punya anak, kemudian menyesal karena anak-anaknya durhaka. Tidak ada ruginya bila tidak memiliki anak, dan memang tidak harus selalu ada anak. Bukankah Siti Aisyah juga tak punya anak tapi tetap mulia di mata Allah maupun manusia? Allah yang memberi karunia.

 

Jangan merengek apalagi protes kepada Allah. Terimalah apa yang diberikan-Nya seraya terus berikhtiar. Kita boleh meminta kepada-Nya, tapi jangan mengatur. Dengan terus menerus memperbanyak dan khusyuk beribadah kita memohon kepada-Nya.

 

Kita renungi bahwa meminta dan mengatur itu berbeda. Mengatur adalah apabila tak diberi akan rewel, dan menjauhkan diri dari ketenangan. Tetapi meminta hanya meminta saja. Tidak masalah kalau tidak diberi. Karena belum tentu apa yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut-Nya.

 

Jadi, anak laki-laki atau perempuan, termasuk kemandulan, merupakan kehendak-Nya dan sesuka-Nya saja. Bukan kita. Tugas kita adalah menerima dan bertanggung jawab atas apapun yang diberikan-Nya. Terus menerus mengingat seluruh karunia-Nya sampai saat ini. Tenggelam merenungi semua pemberian-Nya sampai hati remuk dalam tangisan. Bertobat.